"Maka hari ini kami memutuskan bersama setelah rapat koordinasi membentuk tim gabungan terpadu, dari semua lembaga," kata Wiranto di Gedung Kemenkopolhukam, Jakarta, Senin (30/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Wiranto, tim terpadu ini nantinya akan membedah satu persatu dari setiap dugaan pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu. Tak hanya itu, Wiranto juga menugaskan tim itu untuk menyelidiki faktor penghambat mengapa kasus-kasus tersebut tak terselesaikan.
Aksi Kamisan dengan menirukan gaya Jokowi yang menuntut penyelesaiak kasus-kasus HAM, di depan Istana Presiden, Jakarta, 27 Juli. (CNN Indonesia/ Hesti Rika) |
Lebih lanjut, Wiranto juga mengatakan selama ini kasus pelanggaran HAM di masa lalu sering kali terkendala oleh bukti-bukti outentik yang berhubungan dengan kasus tersebut.
"Kalau masih ada kekurangan bukti bagaimana cara mendapatkan bukti. Jangan hanya kita berbicara dengan testimoni dengan wawancara kan gak mungkin harus ada bukti," katanya.
"Intinya kita akan tampilkan kejujuran kepada masyarakat, sehingga jangan sampai ada tuduh-menuduh bahwa saling melempar bola, tapi betul-betul kita ingin bahwa tuduhan pelanggaran HAM berat masa lalu itu dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya," imbuh dia.
Aksi 'Kamisan' di depan Istana Merdeka, Jakarta, 2016, yang menolak pengangkatan Wiranto sebagai Menkopolhukam. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Misalnya, Wiranto disebut-sebut dalam laporan PBB soal dugaan pelanggaran HAM di Timor Leste, serta peristiwa penyerangan kantor PDI, 27 Juli 1996, atau peristiwa Kudatuli.
(arh/gil)
Aksi Kamisan dengan menirukan gaya Jokowi yang menuntut penyelesaiak kasus-kasus HAM, di depan Istana Presiden, Jakarta, 27 Juli. (
Aksi 'Kamisan' di depan Istana Merdeka, Jakarta, 2016, yang menolak pengangkatan Wiranto sebagai Menkopolhukam. (