Gerindra: Instruksi 'Siap Berantem' Jokowi Tak Perlu Diladeni

Joko Panji Sasongko, CNN Indonesia | Senin, 06/08/2018 14:32 WIB
Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani menganggap pidato Jokowi soal 'siap berantem' tak perlu diladeni karena hanya bakal membuat kerusakan lebih parah. Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, di kawasan Kemang Selatan, Jakarta, Rabu (1/8) malam. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani menyesalkan pernyataan Presiden Joko Widodo yang menginstruksikan pendukungnya di Pilpres 2019 untuk siap berkelahi. Pihaknya mengaku tak akan meladeni seruan ini.

"Berantem itu kalau ada yang mengajak [berantem] diladenin. Kami tidak akan ngeladenin yang kayak gitu. Karena ini akan membuat kerusakan yang lebih parah bagi bangsa Indonesia," dalihnya, di Gedung DPR, Jakarta, Senin (6/8).

Diketahui, Jokowi, dalam pertemuan dengan para relawan, di Bogor, Sabtu (4/8), meminta untuk tak mencari permusuhan, namun, "Kalau diajak berantem juga berani".


Bagi dia, Jokowi seharusnya tidak mengeluarkan imbauan semacam itu mengingat statusnya sebagai kepala negara.

"Ketika kemudian presiden menyatakan bahwa kalau diajak berantem harus berani, saya kira kami sangat menyesalkan itu," ucap dia.

Muzani menjelaskan bahwa kepala negara merupakan pengayom bagi masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang. Ia dilarang mengeluarkan pernyataan yang membuat perpecahan di tengah masyarakat.

Ia berkata Jokowi seharusnya menyampaikan pernyataan yang sifatnya menyatukan dan menyejukkan suasana di tengah tahun politik.

"Tugas presiden ketika dilantik sebagai presiden di gedung DPR adalah mempersatukan seluruh bangsa, wilayah, dan masyarakat dengan komponen yang berbeda. Bukan mengaduk, mengadu, atau ngomporin," ujarnya.
Gerindra: Instruksi 'Siap Berantem' Jokowi Tak Perlu DiladeniPresiden Joko Widodo meminta relawan menahan diri selama Pilpres 2019, namun siaga jiga ada yang mengajak berkelahi. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Jika pernyataan tersebut sengaja disampaikan, ia menilai Jokowi bukan sebagai presiden, melainkan seorang tim sukses.

"Menurut saya pernyataan itu, pernyataan sebagai seorang tim sukses. Bukan sebagai kepala negara," ujar Muzani.

Di sisi lain, Muzani meminta semua pihak bersikap tenang dalam menanggapi pernyataan Jokowi. Ia menilai perbedaan pilihan capres dan cawapres di Pilpres 2019 jangan menjadi pemicu perpecahan bangsa.

"Janganlah perbedaan itu kemudian menyebabkan kita berantem," ujarnya.



(arh/gil)