Dari pantauan Antara di Mataram, Senin (20/8) dini hari, lapangan yang dipenuhi oleh pengungsi itu antara lain halaman gedung TVRI, lapangan di dekat Islamic Center Jalan Udayana, dan Lapangan AURI.
Mereka mendirikan tenda darurat karena tidak berani untuk pulang ke rumah karena rangkaian gempa tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Minggu (19/8) pagi, warga terpantau sudah banyak yang meninggalkan tenda pengungsian karena gempa dianggap sudah reda.
Pengungsi beristirahat dalam tenda darurat di sekitar pemukiman di Lombok Barat, NTB, Senin (6/8). (ANTARA FOTO/Zabur Karuru) |
Akibat gempa itu, sejumlah warga dilaporkan meninggal.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, Lalu Azhar mengatakan seorang warga Seteluk, Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB , meninggalakibat terkena reruntuhan bangunan.
Di samping itu, seorang warga Desa Lengam, Kecamatan Lopok, Kabupaten Sumbawa, bernama Nur Asiah (36), pada Minggu (19/8) pukul 23.11 Wita, dilaporkan meninggal setelah kaget dan jatuh pingsan saat terjadi gempa dengan magnitudo 7,0 itu.
Sebelumnya, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan warga panik akibat gempa yang dirasakan lebih kuat ini.
[Gambas:Twitter]
"Masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah di Lombok. Sebagian masyarakat histeris karena merasakan guncangan gempa yang lebih keras dibandingkan sebelumnya," ujarnya.
(arh)
Pengungsi beristirahat dalam tenda darurat di sekitar pemukiman di Lombok Barat, NTB, Senin (6/8). (