AMAN Cabut Somasi soal Gawai Serentak terhadap Sutopo

Wishnugroho Akbar, CNN Indonesia | Kamis, 30/08/2018 18:32 WIB
AMAN Cabut Somasi soal Gawai Serentak terhadap Sutopo Ilustrasi. (Greenpeace/Jurnasyanto Sukarno)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Barat menyatakan telah menerima klarifikasi dan permintaan maaf dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho terkait pernyataannya bahwa tradisi gawai serentak merupakan salah satu pemicu kebakaran hutan di Kalimantan Barat.

AMAN menegaskan tak akan mengambil langkah hukum terhadap Sutopo.

"Kami bisa menerima permohonan maaf beliau dan karena itu bagi AMAN masalahnya sudah selesai. Kami tak akan melanjutkan [somasi] ke tuntutan hukum," kata Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) AMAN Kalbar Stepanus Masiun saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (30/8).


Sutopo sebelumnya sempat disomasi oleh AMAN Kalbar setelah dirinya secara khilaf mengaitkan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat dengan tradisi gawai serentak.

Dia kemudian mengklarifikasi sekaligus mengajukan maaf atas pernyataannya itu. Sutopo mengatakan tak bermaksud menghina atau mencap tradisi gawai sebagai penyebab semakin banyaknya kabut asap.

"Atas nama pribadi dan sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, saya mohon maaf kepada masyarakat Dayak di seluruh Indonesia atas kekhilafan penulisan yang mengakibatkan penafsiran yang salah," kata Sutopo dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (29/8).

Gawai serentak sendiri merupakan salah satu tradisi suku Dayak di Kalimantan Barat yang bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Dilansir dari situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tradisi gawai memiliki sejumlah tahapan yang salah satunya adalah pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Di sisi lain, AMAN menyatakan tak ada korelasi antara kebakaran hutan dan lahan dengan tradisi gawai.

Mengklarifikasi pernyataan Sutopo, AMAN mengatakan bahwa tradisi gawai sudah dilakukan masyakarat Dayak di Kalbar selama sekitar 6000 tahun. Sementara fenomena kebakaran hutan dan lahan baru terjadi 20 tahunan terakhir.

Masiun juga menegaskan tidak ada tradisi gawai secara serentak. Berdasarkan pengamatan di lapangan, tradisi gawai dilakukan pada bulan dan tanggal yang berbeda-beda di setiap kampung. Oleh karena itu ia menyebut tak ada keterkaitan antara kebakaran hutan dan lahan dengan gawai.

"Seperti pada tahun ini, [gawai] hanya terjadi di Pontianak dan sekitarnya. Di Pontianak ada gawai pada Mei. Di kampung-kampung itu dilakukan bulan April atau Juli. Jadi setiap kabupaten beda-beda tanggalnya. Jadi tidak ada itu gawai serentak," kata Masiun.

"Saya di Ketapang menyaksikan sendiri tradisi gawai. Di sana orang bakar ladang, tetapi tiga jam sudah selesai. Asap pun padam. Tak ada kabut. Udara bersih," ujarnya melanjutkan.

Pernyataan Sutopo juga memicu aksi demonstrasi dari sejumlah kelompok masyarakat adat di Kalimantan Barat.

Atas hal itu Masiun menyatakan bahwa AMAN tidak berperan dalam aksi demo tersebut. Ia hanya berharap pemerintah ke depannya memberikan pernyataan yang lebih fair terkait fenomena kebakaran hutan di Kalimantan.

Lebih dari itu, Masiun menyatakan AMAN secara organisasi menghormati tradisi gawai masyarakat Dayak Kalimantan Barat. Dia menyebut tradisi itu sebagai kearifan lokal yang positif.

"Dan itu tidak ada korelasinya dengan kebakaran hutan," kata Masiun. (wis/wis)