Rupiah Terus Melemah, PAN Desak Jokowi Rombak Tim Ekonomi

Feri Agus, CNN Indonesia | Selasa, 04/09/2018 19:04 WIB
Rupiah Terus Melemah, PAN Desak Jokowi Rombak Tim Ekonomi Presiden Joko Widodo. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Dewan Kerhormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Drajad Wibowo menyatakan kekhawatiran terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang terus merosot. Dia menyarankan supaya Presiden Joko Widodo menyadari kondisi itu dan merombak habis tim ekonomi diikuti dengan jalan keluar yang jitu.

"Jadi Pak Jokowi, tolong rombak total tim ekonomi, ambil langkah jangka pendek yang lebih pro-bisnis, dan perbaiki defisit. Pasar sudah memvonis jelek tim ekonomi," kata Drajad kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/9).

Drajad menyebut selama ini Tim Ekonomi Jokowi lebih sibuk berbicara di depan media massa ketimbang bekerja. Drajad menyatakan terdapat tiga celah yang perlu diperbaiki Tim Ekonomi Jokowi, yakni defisit perdagangan, defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal Indonesia.



Menurut Drajad, ketika muncul masalah, para pembantu Jokowi di bidang ekonomi selalu menyalahkan kondisi global. Drajad mengakui pasti terdapat faktor global dalam melemahnya rupiah, seperti kenaikan suku bunga the Fed Amerika Serikat, harga minyak, atau efek psikologis dari krisis ekonomi Turki.

"Tapi harusnya, kita lebih fokus memperkuat kondisi dalam negeri," kata dia.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS nyaris mencapai Rp15 ribu per dollar AS. Jika hal ini terus terjadi, maka bakal menimbulkan efek bola salju dan domino yang situasi ekonomi di Indonesia semakin sulit. Menurut Drajad, kurs saat ini adalah yang paling rendah selama lima tahun terakhir.

"Saya sangat khawatir terhadap efek bola salju dan efek domino dari anjloknya rupiah. Kurs rupiah sekarang adalah yang terendah, bahkan dibandingkan saat krisis ekonomi 1998," ujar Drajad.


Drajad memaparkan salah satu efek dari terus merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah kepercayaan pasar yang bisa ambruk lebih cepat.

Menurut Drajad, berbagai langkah jangka pendek yang diambil pemerintah, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan terbukti gagal menjaga rupiah stabil.

Selain itu, kata Drajad, cadangan devisa pun telah anjlok hampir US$14 milyar selama Januari-Juli 2018. Menurutnya, sampai Agustus 2018 dalam waktu tiga bulan, BI sudah empat kali menaikkan bunga reverse repurchase 7-hari.

"Suku bunga pinjaman makin mempersulit pelaku usaha. Berbagai klaim keberhasilan dan ketahanan ekonomi terbukti gagal meyakinkan pasar. Ini berpotensi membuat Rupiah makin terdepresiasi," ujarnya.

Di sisi lain, Drajad mengatakan efek domino dari terus anjloknya nilai tukar rupiah akan menyulitkan banyak perusahaan dan rumah tangga, mulai dari sektor perbankan hingga ritel dan makanan. Tak hanya itu, harga-harga barang juga akan ikut naik mengikuti nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.


"Jadi sebenarnya, rupiah anjlok lebih cepat dan lebih besar dari proyeksi para analis. Ini lebih mengkhawatirkan," kata dia. (ayp/ayp)