Banyak Caleg 2019 Warga Jabodetabek, Komitmen Dipertanyakan

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Jumat, 14/09/2018 23:30 WIB
Banyak Caleg 2019 Warga Jabodetabek, Komitmen Dipertanyakan Ilustrasi pendaftaran caleg di KPU. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah Komisi Pemilihan Umum menetapkan Daftar Caleg Tetap Pemilu 2019, ternyata masih menyisakan permasalahan. Lembaga swadaya masyarakat Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) menyatakan mereka menemukan fakta ternyata 49 persen caleg adalah warga Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek).

Formappi menyatakan caleg 2019 yang bermukim di Jabodetabek mencapai 49 persen dari keseluruhan. Sedangkan 2556 orang caleg dari jumlah itu tinggal di DKI Jakarta.

Caleg yang paling banyak bermukim Jabodetabek diajukan oleh Partai Golkar (340). Disusul Perindo (320), PSI (319), Partai Demokrat (318), dan PDI Perjuangan (302).


Sementara itu, partai yang memiliki caleg dari luar Jabodetabek paling banyak adalah PKS (361), PKB (360), Nasdem (347) PAN (327), Berkarya (326),

"Komposisi caleg yang berdomisili di kawasan Jabodetabek yang mencapai 49 persen masih menunjukkan rekrutmen kader parpol yang cenderung Jabodetabek-sentris," ujar peneliti Formappi, Lucius Karpus dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, pada Jumat (14/9).
Lucius melanjutkan jika sebagian besar caleg Jabodetabek terpilih, maka DPR seharusnya tidak perlu mengajukan pengadaan rumah dinas dengan total 575 unit. Termasuk dengan anggaran sewa rumah dinas yang seharusnya dicoret, karena kebanyakan anggota DPR sudah mempunyai rumah sebelum mereka menjadi caleg. Namun, menurut Lucius di samping itu masih ada masalah yang lebih penting.

"Masalah yang lebih krusial adalah jika mayoritas caleg terpilih berasal dari Jabodetabek bagaimana menjamin mereka mengetahui seluk beluk aspirasi rakyat di daerah pemilihan," kata dia.

Caleg Perempuan Sekedar Pelengkap

Lucius juga menemukan komposisi caleg perempuan yang akan bertarung di Pemilu 2019 sebesar 40 persen atau 3194 caleg. Jumlah itu masih kalah dari caleg pria yang mendominasi di angka 60 persen atau 4797 orang.

"Pada umumnya caleg 2019 masih didominasi oleh laki-lali meskipun afirmasi 30 persen perempuan sudah dipenuhi masing-masing partai," kata Lucius.

Menurut data calon sementara (DCS) KPU yang diteliti dari 13 Agustus - 4 September 2019, Formappi menyatakan PSI adalah salah satu partai yang jumlah caleg perempuan dan prianya hampir seimbang. Yaitu 301 pria dan 274 wanita.
Sayangnya hal itu tak berlaku di semua partai. Perempuan juga tidak ditempatkan di nomor urut kecil. Menurut hasil telaah Lucius, hanya 19 persen yang berada di nomor urut pertama sedangkan 50 persen berada di nomor urut 3.

Dari seluruh total caleg, hanya 19 persen atau 236 caleg perempuan yang berada di nomor urut 1. Sedangkan caleg pria menempati 81 persen atau 1019 nomor urut pertama dari partai mereka.

"Penempatan caleg perempuan pada nomor urut bawah menunjukkan bahwa kemauan mengafirmasi itu hanya lips service saja. Meskipun keterpilihan seseorang dalam pileg tidak ditentukan berdasarkan nomor urut tetapi bisa diduga bahwa masyarakat suka memilih caleg dengan nomor urut kecil dalam daftar," kata Lucius.

Karena minimnya caleg perempuan di nomor kecil, Lucius menyadari peluang keterpilihan mereka tidak besar. Dengan demikian menurut Formappi hal itu tidak akan sanggup mewujudkan keterwakilan 30 persen perempuan di DPR. (ayp/ayp)