Menurut Peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Luky Sandra Amalia, asumsi itu wajar lantaran ada kedekatan nama koalisi dengan nama PKS. Hal ini juga bisa berarti ada dominasi PKS di koalisi, di luar hegemoni Partai Gerindra.
Sandra menjelaskan bahwa kata 'Adil' serupa dengan kata 'Keadilan' dalam nama PKS. Sementara, kata 'Makmur' juga identik dengan kata 'Sejahtera' dalam PKS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, lanjut dia, PKS merupakan parpol pertama di luar Partai Gerindra yang bergabung ke koalisi.
Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, di Jakarta, Minggu (23/9). (CNN Indonesia/Abi Sarwanto) |
"Sandiaga juga tetap identik dengan Gerindra di mata pemilih, meskipun sudah bukan kader lagi," ujar Sandra.
Terpisah, Direktur Pencapresan PKS Suhud Aliyudin membantah partainya mengusulkan nama Koalisi Indonesia Adil dan Makmur demi mendapat keuntungan elektoral. Dia menegaskan bahwa nama koalisi adalah buah pikir seluruh pihak yang tergabung di dalamnya.
Suhud juga menampik PKS setuju nama tersebut lantaran identik dengan nama partainya. Menurutnya, kesepakatan mengenai nama terjalin karena adil dan makmur adalah dambaan pendiri bangsa sejak dulu.
"Saya kira kebetulan saja. Indonesia Adil dan Makmur itu merupakan cita-cita pendiri bangsa Indonesia," dalihnya.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
"Tidak kok. Kalau pertimbangannya seperti yang disampaikan peneliti LIPI tersebut, koalisinya akan bernama Koalisi Indonesia Amanah dan Adil," tandasnya.
(bmw/arh)
Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, di Jakarta, Minggu (23/9). (
Foto: CNN Indonesia/Fajrian