Sutopo, Info Bencana dan Kemoterapi yang Bikin Ganteng Luntur

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Rabu, 03/10/2018 07:58 WIB
Sutopo, Info Bencana dan Kemoterapi yang Bikin Ganteng Luntur Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para pewarta sudah berkerumun di lobi Graha Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB). Mereka menanti informasi terkini soal gempa dan tsunami di Kabupaten Donggala serta Kota Palu.

Setelah mulur satu jam, akhirnya sosok yang ditunggu itu muncul juga. Lelaki itu datang dengan raut wajah semringah, tetapi pucat. Dia meminta maaf karena jumpa pers terlambat.

Dia adalah Sutopo Purwo Nugroho, salah satu narasumber andalan seluruh pewarta di tanah air. Posisinya sebagai Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB membuatnya menjadi rujukan utama soal kabar-kabar bencana. Informasinya selalu utuh dan ramah saat meladeni awak media, terutama soal menjelaskan istilah-istilah teknis nan rumit.


"Saya sudah dua bulan ini sakit. Kontrol atau kemoterapi yang membuat badan saya susut 20 kilogram. Kegantengan saya juga jadi ikut luntur ini," kata Sutopo sedikit bercanda sembari menyiapkan paparannya di depan awak media.


Sutopo, atau karib disapa Pak Topo, sudah delapan tahun bersentuhan dengan para jurnalis. Dedikasi pada pekerjaannya membuat dia tak cuma dikenal luas di kalangan para pemburu kabar, tetapi juga masyarakat.

Apalagi di zaman digital, Sutopo harus selalu siap dengan data-data penting. Pekerjaannya bertambah karena mesti melawan kabar bohong soal bencana berseliweran di jagat maya, supaya masyarakat paham. Padahal, saat ini dia juga sedang berjuang untuk hidupnya karena kanker paru-paru stadium 4B diidapnya.

"Saya tahu kalau menyampaikan ke media itu harus lengkap, utuh, komprehensif. Saya sajikan data, fakta dan analisis. Tidak ada yang saya tutup-tutupi. Alhamdulillah setelah saya sampaikan ke media, evaluasinya masyarakat tenang, tidak merasa ditakut-takuti," kata Sutopo saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Senin (1/10).


Terlanjur 'Basah'

Sutopo mengaku mulanya enggan diberi jabatan saat ini diembannya. Sebab dia mengaku latar belakang keilmuannya jauh berbeda.

"Waktu itu saya dipaksa dilantik. Saya enggak punya background komunikasi, tapi bisa menjelaskan itu (bencana)," katanya.

Latar belakang sebagai peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dulu membuatnya dekat dengan media. Dia pernah menjadi narasumber karena salah satu penelitiannya di Situ Gintung menjadi rujukan ketika tanggul itu jebol, dan menewaskan sekitar 100 orang pada 2009.

Lelaki kelahiran Boyolali, Jawa Tengah 7 Oktober 1969 itu meraih gelar sarjana pertamanya dari jurusan geografi, Universitas Gadjah Mada pada 1993. Dia lantas melanjutkan studi di bidang Hidrologi di Institut Pertanian Bogor dan meraih gelar Doktor. Dia mengaku nyaris menjadi profesor jika tidak keburu kerja di BPPT dan BNPB.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memberikan keterangan kepada awak media. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Sutopo pun sebenarnya siap jika harus digantikan oleh orang lain. Namun, menurut dia menjelaskan data dan mekanisme bencana bukan perkara gampang.

Dalam menyiapkan data bencana sebelum disampaikan kepada media massa, Sutopo kerap menghabiskan waktu seharian penuh buat menyusunnya. Baginya tak mudah mendapatkan data-data saat terjadi bencana.

Dia terlebih dulu harus mengontak setiap posko, menyatukan data, menyortir, memeriksa dan menganalisisnya sebelum dibagikan ke media. Belum jika wilayah bencana sulit dijangkau atau jalur komunikasi putus.

"Kejadian paling susah itu Lombok. Itu paling susah menangani medianya karena dipolitisasi. Hoaks bertubi-tubi. Masuk ke ranah politik, saya tampilkan apapun disalahkan," katanya.


Pengumpulan data menjadi semakin sulit karena fisik Sutopo semakin melemah. Dia harus menyempatkan melakoni kemoterapi tiga pekan sekali, di sela-sela tugasnya. Lambat laun pengobatan itu memperlihatkan efeknya.

"Efek kemoterapi itu sakit, pasti mual, muntah, pusing, badan nggreges, kemudian juga kuping jadi budek, rambut rontok, ganteng saya luntur. Nafsu makan enggak ada. Seminggu biasanya, tiga hari enggak ngantor," ujar Sutopo.

Meski merasa kepayahan, Sutopo tak bisa berlama-lama meninggalkan tugasnya. Dia bertekad tetap harus muncul saban jumpa pers. Dia juga masih sempat mengajari anak buahnya menyusun bahan-bahan paparannya, lalu memeriksanya.

Demi menyesuaikan zaman, Sutopo juga harus fasih dalam menggunakan teknologi online. Seluruh informasi selalu dia pampang di laman media sosial Twitter dan Instagram.
Dia juga masih rajin membalas pesan dalam aplikasi WhatsApp dari wartawan. Dia mengelola tujuh grup WhatsApp jurnalis nasional, dan 14 grup wartawan lokal, dan satu grup pers BNPB. Ada lebih dari tiga ribuan wartawan mesti dia layani di saat-saat genting.

Ponselnya juga kerap berdering seharian karena dikontak keluarga atau korban yang ingin mendapat penjelasan. Instansi pemerintahan lain juga senantiasa menunggu informasi darinya.

Hanya saja belakangan ini Sutopo mengaku tak mampu meladeni para pewarta dan masyarakat dengan prima. Tangan kirinya sudah terganggu sebagai akibat efek kemoterapi. Bahkan untuk bernafas saja dia merasa kesulitan.

"Sejak saya sakit dua bulan terakhir lah, efek kemoterapi itu saraf tangan kiri saya terganggu, kayak lumpuh.  Ngetik di HP itu sering salah. Saya kurangi. Biasanya saya sering buat rilis dari handphone kayak kalian ini. Setelah menyebar kanker di tulang belakang, ini lengan kiri sakit sekali. Jadi kekuatannya lemah," ujar Sutopo.

Sutopo berjanji tetap berusaha bekerja sebaiknya-baiknya. Dalam setiap unggahan dia sampaikan kepada wartawan maupun media sosial, selalu ada sempilan doa untuknya, 'Cepat sembuh Pak Topo'. (ayp/ayp)