Eni Saragih Mengaku Dapat Tekanan Golkar soal Suap PLTU Riau

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/10/2018 04:05 WIB
Eni Saragih Mengaku Dapat Tekanan Golkar soal Suap PLTU Riau Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih mengaku mendapat tekanan dari Golkar terkait suap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih mengaku mendapat tekanan dari Partai Golkar dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1. Namun, Eni tak merinci tekanan dari partainya itu.

"Ada lah pokoknya itu, ada lah (tekanan). Sudah saya sampaikan juga itu. Semua sudah saya sampaikan ke penyidik," kata Eni usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (4/10).

Eni mengatakan tekanan tersebut tak sampai berbentuk intimidasi ataupun ancaman. Menurut Eni, setiap orang pasti menginginkan keamanan dalam hidupnya.



"Tapi saya tak mengindahkan itu. Tak anggap itu sebagai intimidasi. Yang penting saya sudah berjanji akan kooperatif, menyampaikan apa adanya," ujarnya.

Terkait surat dakwaan pemegang saham Blackgold Natural Resources Ltd Johanes Budisutrisno Kotjo, yang menyebut ada aliran uang untuk kepentingan Pilkada Temanggung 2018, Eni tak membantahnya.

Eni Saragih Dapat Tekanan Golkar soal Suap PLTU Riau-1Pemegang saham Blackgold Natural Resources Ltd Johanes Budisutrisno Kotjo. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Eni menyatakan telah menyampaikan seluruh rincian penggunaan uang yang diterima dari Kotjo kepada penyidik KPK. Salah satunya, kata Eni adalah untuk keperluan organisasinya maupun Golkar.

"Tapi enggak langsung ke pilkada. Memang itu saya yang pakai. Macam-macam untuk keperluan organisasi iya, keperluan partai iya. Macam-macam lah," kata dia.


Eni kembali menegaskan bahwa apa yang dirinya lakukan dalam proyek PLTU Riau-1 ini adalah menjalankan tugas yang diberikan Golkar. Menurutnya, sebagai kader pasti akan mengawal kepentingan partai yang kini dipimpin Airlangga Hartato itu.

"Bahwa saya diperintahkan partai untuk mengawal ini dan tentunya kalau partai yang memerintahkan ya untuk kepentingan partai," ujarnya.

Kotjo didakwa menyuap anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham dalam proyek PLTU Riau-1 senilai Rp4,75 miliar.

Suap itu diberikan agar Eni membantu Kotjo mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang Riau-1 (PLTU MT Riau-1) antara PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI), China Huadian Engineering Company Ltd (CHEC), termasuk BNR.
(fra/pmg)