Politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menilai sebutan kedua istilah itu sudah menjadi hal lumrah. Panggilan untuk pendukung masing masing kubu itu disebutnya sudah tak lagi timbulkan sakit hati maupun tensi tinggi seperti dulu di awal-awal kemunculan di media sosial.
"Itu kan hanya sebuah lelucon namun kosa kata ini kan sudah menjadi sesuatu yag sudah terbiasa digunakan oleh netizen," jawab Ferdinand dalam diskusi publik "Buzzer Poltiik di Sosial Media, Efektifkah?" di Tebet, Jakarta Selatan pada Jumat (12/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pikir orang tidak ada yang tersinggung disebut cebong atau kampret asalkan dukung mendukung. Karena sudah jadi kosakata yang diterima dan terbiasa, bukan sesuatu yang tidak layak dibicarakan. Faktanya orang pakai itu di sosmed," lanjutnya.
Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko. (CNN Indonesia/Christie Stefanie). |
Dia menambahkan bahwa sebutan tersebut justru merusak masyarakat yang sudah terpolarisasi kepada kedua kubu.
Pengamat Politik Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad sepakat dengan Budiman bahwa sebaiknya sebutan kampret maupun cebong tidak digunakan oleh influencer, buzzer maupun pendukung masing-masing kubu. Tak ada yang diuntungkan dengan sebutan tersebut.
"Ya mestinya dihindari, kita diingatkan Rwanda di mana suku gunakan istilah binatang untuk membantai. Kalau itu bisa terjadi di kita tidak akan menguntungkan siapapun, tapi rugikan semuanya," kata Saidiman.
Saidiman menambahkan bahwa Pilpres 2019 bukan perang, melainkan kompetisi dalam demokrasi. Seharusnya dalam pilpres, lawan politik tidak dianggap sebagai musuh yang mesti diperangi. (kst/osc)
Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko. (CNN Indonesia/Christie Stefanie).