Usai Insiden Peluru Nyasar, DPR Kaji Gunakan Kaca Antipeluru

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 16/10/2018 02:49 WIB
Usai Insiden Peluru Nyasar, DPR Kaji Gunakan Kaca Antipeluru Ketua DPR Bambang Soesatyo mewacanakan penggunaan kaca antipeluru di Gedung DPR. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua DPR Bambang Soesatyo menyatakan akan meminta Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR untuk mengkaji pemasangan kaca antipeluru di sejumlah ruangan di Gedung DPR. Dia berharap peristiwa peluru nyasar ke ruang anggota DPR seperti terjadi pada Senin (15/10) tidak terulang.

Bambang berkata insiden peluru nyasar ke Gedung DPR sudah tiga kali terjadi.

"Saya juga ingin meminta Badan Rumah Tangga, BURT untuk melakukan kajian apakah sudah dibutuhkan secara mendesak itu dilapisi dengan kaca film sehingga bisa menahan peluru," kata dia.


"Kami akan minta BURT untuk melakukan kajian dan untuk menutup kaca itu dengan kaca film yang mengarah ke Lapangan Tembak," lanjut Bambang.

Peluru nyasar menembus ruang anggota DPR Fraksi Partai Gerindra Wenny Warouw di lantai 16 dan ruang anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Golkar Bambang Hari Purnomo di lantai 13 Gedung Nusantara I DPR.

Peristiwa itu terjadi pada pukul 14.35 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Menurut Bambang, insiden peluru nyasar itu hampir mencelakakan tenaga ahli Bambang Hari Purnama maupun tamu Wenny Warouw. Sebab, peluru nyasar itu sudah hampir terkena kepala.

"Jujur saya tidak bisa membayangkan yang tadi memakai jilbab, Adinda kita saudara TA dari Bambang Heri yang hari ini sedang melakukan umrah. Mundur sedikit itu pasti kena kepala," katanya.

"Saya tidak bisa membayangkan tamu dari Pak Wenny Warouw tadi kalau tinggi sedikit pasti kena juga kepalanya," ujarnya.

Kepolisian sementara menyimpulkan peluru itu berasal dari Lapangan Tembak Senayan. Bambang mengatakan pihaknya juga sudah meminta pengelola Lapangan Tembak Perbakin untuk melakukan langkah-langkah antisipasi agar kejadian peluru nyasar tidak berulang.

"Kami minta kepada pengurus atau pengelola Perbakin itu kawasan adalah milik Setneg ya, GBK itu untuk melakukan lagi menambah penghalang dalam bentuk baja atau apa agar tidak ada lagi kejadian peluru nyasar," kata Bambang.

Wenny Warouw mengungkapkan kembali kronologi dugaan penembakan atau peluru nyasar yang bersarang di ruangannya.

Dia mengatakan saat peristiwa terjadi dia tengah menerima dua orang tamu yaitu Pendeta Hesky Roring dan AKBP Ronal pada pukul 14.35 WIB.

Tak lama setelah duduk dan mengobrol, Wenny menyatakan terdengar bunyi pecahan kaca. Wenny bersama tamunya langsung bertiarap untuk melindungi diri

"Nah ini pendeta langsung tiarap. 'Tiarap pak, kita ditembak'. Ya sudah kita begitu sadar kita lihat kaca pecah kemudian tembus plafon," kata Wenny di kompleks parlemen, Jakarta.

Sempat Hubungi Kapolri

Usai tembakan, Wenny mengaku menghubungi Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk meminta kepolisian menyelidiki insiden tersebut. Kebetulan, saat itu dia menyebutkan sedang berkomunikasi dengan Tito via aplikasi WhatsApp.

"Jadi saya lapor beliau 'Pak tolong datangkan penyidik Polri karena ruangan saya ditembak'. Tidak lama Kapolres datang dengan penyidik," kata Wenny.

Wenny pun berharap polisi dapat menyelidiki secara tuntas peristiwa ini. Dia tidak percaya insiden ini merupakan peluru nyasar dari Lapangan Tembak Senayan.

"Saya cuma ingin peluru sudah ketemu pemilik kalau bisa cepat ketemu tanya yang bersangkutan kenapa nembak ke DPR? Baru bisa terungkap ini ada motif apa. Itu yang paling profesional," ucapnya. (swo/wis)