Mengenang Era Emas Metromini, Sang Raja Jalanan

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 09:41 WIB
Mengenang Era Emas Metromini, Sang Raja Jalanan Bus Metromini pernah jadi raja jalanan di Jakarta pada masa jayanya. (ANTARA FOTO/M Ali Wafa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebelum Transjakarta mengaspal di Jakarta, Metromini adalah raja jalanan ibu kota. Kebutuhan warga akan Metromini sabagai alat angkut sempat menjadi komoditas bisnis paling menjanjikan di masanya.

Direktur Utama PT Metromini Nofrialdi masih ingat berapa untung yang ia dapat dari laju bus oranye miliknya. Nofri mengenal bisnis Metromini ketika masih bekerja di perusahaan kredit kendaraan.

Ia lantas terjun ke bisnis transportasi pada 1990 dengan mengambil alih enam unit Metromini yang cicilannya mangkrak. Dengan modal Rp30 juta hasil pinjaman dari bank, Nofri rela meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai kantoran.


"Rasanya hebat juga langsung jadi pengusaha," ujar Nofri.

Bagi Nofri, periode 1990-an merupakan periode emas bisnis Metromini. Kala itu dalam sehari, uang setoran yang ia peroleh dari satu bus bisa dipakai untuk membeli dua ban. Harga dua ban saat itu setara Rp120 ribu atau sekitar Rp1,4 juta dengan menghitung inflasi yang berlaku sekarang. Bahkan seringkali setoran itu bisa dicapai para sopir hanya dalam tempo setengah hari saja.

Maka tak heran untung yang dipetik Nofri cukup besar di era itu. Dari bisnis ini, dia sanggup membeli satu unit Mercedes 280 dan sebuah rumah mapan.

"Orang kalau punya Metromini jumlahnya lima atau sepuluh sudah kaya itu," ucap Nofri penuh bangga.

Azas Tigor Nainggolan mengalami hal serupa. Tigor mewarisi bisnis Metromini pada 1995 dari ayahnya, Mal Siantar Nainggolan yang merupakan salah satu pendiri PT Metromini.
Mengenang Era Emas Metromini, Sang Raja Jalanan (EMB4Metromini pernah jadi raja jalanan ibu kota di masanya. (ANTARA FOTO/M Ali Wafa)

Tigor bercerita saat itu setoran yang berkisar Rp100 ribu dengan mudah tembus. Satu bus dalam sehari bisa memperoleh Rp600 ribu. Dikurangi setoran ke pemilik, sopir bisa membawa pulang Rp500 ribu per hari.

"Ada sopir gue itu sampai tua kerja di tempat gue, sampai bisa menyekolahkan anaknya. Jadi memang sangat menjanjikan bisnis transportasi umum," kenang Tigor.

Bahkan pada 1980-an, Tigor sudah menyaksikan pesatnya bisnis sang ayah yang semula hanya memiliki dua unit bus menjadi 16 unit. Dari sana pula, sang ayah bisa menyekolahkan Tigor dan adik-adiknya ke jenjang perguruan tinggi.

Namun seiring waktu, kejayaan Metromini di jalan raya ibu kota kian luntur. Konflik internal berkepanjangan dan kompetisi yang makin berat menyurutkan profit yang mereka terima setiap tahunnya.

Rimhot Siagian, pengusaha Metromini yang masih bertahan, mengatakan keuntungan yang ia peroleh dari Metromini saat ini setiap bulannya hanya sekitar Rp1,5 juta.

Tiga tahun lalu, Rimhot masih ingat untung yang dia dapatkan tidak serendah itu. Uang setoran yang dipatok berkisar Rp350 ribu - Rp400 ribu. Sopir sendiri masih bisa membawa pulang Rp300 ribu.

"Kalau Rp400 ribu masih lumayan, kalau sekarang tinggal Rp250 ribu, Rp200 ribu," kata Rimhot.

Bisnis Metromini kian jatuh pada 2015 tak jauh dari kehadiran alternatif angkutan lain seperti transportasi online dan jumlah rute Transjakarta yang terus bertambah.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Shafruhan, yang juga memiliki sejumlah unit Kopaja yang sudah berintegrasi dengan Transjakarta, membuka tangan untuk membantu masalah yang dihadapi Metromini untuk melakukan peremajaan dan revitalisasi kendaraan.

Namun pihaknya tak bisa berbuat apa-apa jika masalahnya masih berkutat di internal perusahaan. Itu sebabnya dia berharap pengurus Metromini cepat berbenah agar tak hilang ditelan zaman.

"Gue pikir khusus Metromini, kita kan enggak mau Metromini tinggal jadi kenangan," kata Shafruhan. (pmg)