RS Polri Cek 151 Keluarga Korban untuk Pemeriksaan Antemortem

CNN Indonesia | Selasa, 30/10/2018 09:41 WIB
RS Polri Cek 151 Keluarga Korban untuk Pemeriksaan Antemortem Wakapolri Komjen Ari Dono mengatakan pihaknya tidak menargetkan waktu identifikasi korban pesawat Lion Air JT-160. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pihak Rumah Sakit Polri Kramat Jati sudah memeriksa 151 anggota keluarga korban pesawat Lion Air JT-160 yang jatuh di perairan Karawang, Senin (29/10). Para anggota keluarga itu diperiksa untuk mendukung pemeriksaan antemortem atau ciri fisik korban insiden pesawat tersebut.

"Untuk antemortem sudah ada 151 keluarga," kata Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Ari Dono di RS Polri Kramat Jati, Selasa (30/10).

Selain pemeriksaan antemortem, tim dokter di RS Polri Kramat Jati juga melakukan pemeriksaan DNA untuk mengidentifikasi jenazah korban yang sudah ditemukan. 


Dikatakan Ari Dono bahwa pemeriksaan DNA untuk mengidentifikasi korban dilakukan secara bertahap. Ini karena tidak semua keluarga korban yang hadir bisa diperiksa DNA-nya untuk dicocokkan dengan jenazah yang berhasil ditemukan.

Anggota keluarga yang bisa diperiksa DNA-nya hanya orang tua atau anak korban JT-160.

Pesawat Lion Air JT-160 yang jatuh kemarin mengangkut 189 penumpang dan kru pesawat. Dari jumlah itu 181 orang berstatus sebagai penumpang. Dua di antaranya bayi, seorang anak-anak, dan sisanya penumpang dewasa. Untuk kru pesawat berjumlah delapan orang yang terdiri dari pilot dan pramugari.

Sejauh ini tim evakuasi sudah memiliki 24 kantung jenazah. Jumlah itu disebut Ari Dono tidak mencerminkan jumlah korban yang berhasil dievakuasi.

"24 bodypack itu bukan berarti isinya 24 jenazah. Satu bodypack bisa beberapa jenazah karena kondisi korban sudah hancur," ujar dia.

Proses identifikasi korban JT-160 dilakukan dengan bantuan dokter dari Polri, TNI, dan sejumlah kampus di antaranya Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Universitas Padjajaran.

Total ada 15 dokter yang terdiri dari dokter forensik dan odontologi yang bekerja mengidentifikasi tubuh korban. Ari Dono mengatakan pihaknya tidak mengalami kendala berarti dalam proses identikasi. Namun juga tidak menargetkan waktu identifikasi.

"Kita hanya Tinggal tunggu semua bodypack yang ada. Nanti kita pisahkan, identifikasi satu per satu, kita lakukan pengelompokan. Kalau sudah bisa ditemukan maksimal daripada bagian tubuh, sudah kita gabungkan, baru kita buat BAP lalu kita serahkan," kata Ari Dono.

Selain pemeriksaan DNA dan antemortem, RS Kramat Jati juga menyediakan trauma healing bagi keluarga korban. (din/wis)