Kecelakaan Lion Air PK-LQP, KNKT Minta Boeing Ambil Tindakan

CNN Indonesia | Selasa, 06/11/2018 07:09 WIB
Kecelakaan Lion Air PK-LQP, KNKT Minta Boeing Ambil Tindakan Ilustrasi pesawat Lion Air. (ADEK BERRY / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono meminta The National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat dan produsen pesawat Boeing mengambil tindakan lebih lanjut terkait kecelakaan Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610. Tujuannya, agar kecelakaan serupa pada pesawat Boeing tak terulang di masa mendatang.

"KNKT minta kepada NTSB dan Boeing untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah kecelakaan serupa terulang," kata Soerjanto di Kantor KNKT, Jakarta Pusat Senin (5/11), seperti disiarkan CNN Indonesia TV.

Soerjanto meminta demikian sebab terdapat 200 unit pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 yang digunakan maskapai-maskapai lain di dunia. Diketahui Boeng 737 MAX 8 ini merupakan keluaran terbaru dengan mengusung beberapa kecanggihan teknologi dan desain yang lebih up to date dari seri lama.


Ia menegaskan KNKT saat ini tengah menyelidiki dugaan penyebab Lion Air PK-LQP celaka. Penyelidikan dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap pilot-pilot yang pernah menerbangkan Lion Air PK-LQP maupun penelusuran data-data perbaikan yang dilakukan oleh teknisi selama ini.

"Jadi kami sedang secara mendetail mempelajari baik interview dari penerbang-penerbang yang menerbangkan sebelumnya maupun data-data perbaikan yang telah dilakukan oleh teknisi-teknisi dari maskapai tersebut," ujarnya.

Soerjanto mengatakan, penyelidikan ini dilakukan mengingat dari hasil unduhan Fligh Data Recorder (FDR), terekam Lion Air PK-LQP sudah terbang sebanyak 19 kali, di mana dalam empat penerbangan terakhir terdapat kerusakan pada airspeed indicator atau penunjuk kecepatan.

Meski demikian Soerjanto tidak ada menjelaskan lebih lanjut seberapa signifikan kerusakan airspeed indicator itu terhadap kecelakaan Lion Air PK-LQP. Pun demikian, apakah kerusakan itu menjadi penyebab utama pesawat yang mengangkut 189 orang itu mengalami kecelakaan, ia juga tak menjelaskan.

Sebelumnya Soerjanto menduga Lion Air PK-LQP meledak setelah menyentuh perairan di Pantai Tanjung Pakis, Karawang. Ia juga menyebut mesin pesawat sempat menyala di dalam air dengan posisi pesawat masih dalam keadaan utuh sesaat setelah jatuh ke dalam perairan Karawang.

Hal itu ditandai dengan temuan salah satu mesin oleh tim pencarian dan evakuasi pesawat yang terbang dari Jakarta menuju Pangkalpinang pada Senin 29 Oktober 2018 pekan lalu tersebut.

Menurut Soerjanto, mesin pesawat juga sedang dalam kecepatan tinggi saat terjun dari udara menuju perairan. Akibatnya, saat sudah berada di dalam air, mesin pesawat sempat masih dalam keadaan menyala.

Seperti diketahui, pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610 dipastikan jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat setelah dilaporkan hilang kontak pada pukul 06.33 WIB atau sekitar 13 usai lepas landas dari Bandara Soetta, Jakarta menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Saat kecelakaan, pesawat tipe Boeing 737 MAX 8 itu mengangkut 189 orang, terdiri atas 178 penumpang dewasa, satu anak, dan dua bayi, serta delapan awak kabin. (ain/osc)