Andi Arief Sebut PSI Dibentuk untuk Beri Ruang Islamofobia

CNN Indonesia | Selasa, 13/11/2018 15:45 WIB
Wakil Sekjen Demokrat, Andi Arief menegaskan negara demokrasi tak bisa menolak produk hukum termasuk Perda Syariah selama dicapai melalui proses demokrasi. Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief mengkritik sikap politik PSI menolak segala bentuk Perda Syariah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief mengkritik sikap Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menolak peraturan daerah berlandaskan agama termasuk Perda Syariah atau Perda Injil. 

Andi menyebut sikap itu mencerminkan PSI dibentuk untuk memberi ruang kepada paham islamofobia atau rasa takut terhadap Islam dan penganutnya.

"PSI kelihatannya dibentuk untuk Islamophobia mendapat gelanggang, juga tidak serius duduk di Parlemen," tulis Andi di akun Twitternya, @AndiArief_, Selasa (13/11).


Selain bentuk islamofobia, sikap menolak Perda Syariah juga disebut Andi sebagai bentuk frustasi partai terhadap kenyataan. Dengan menolak Perda Syariah, Andi menduga tujuan PSI adalah untuk meraih target minimum yakni mengincar kursi di DPRD kabupaten dan provinsi.

"Target minimumnya duduk di DPRD kabupaten dan provinsi. Cukup realistis, tidak besar pasak dari tiang," tulis Andi.

Dia lantas membandingkan kiprah PSI sebagai partai debutan dengan kiprah Partai Rakyat Demokratik (PRD) di masa lalu.

PRD dibentuk di era 1990-an oleh sejumlah aktivis. Andi pernah terlibat aktif di partai itu.

Andi Arief Sebut PSI Dibentuk untuk Beri Ruang Islamofobia Wakol Sekjen Demokrat, Andi Arief. (Detikcom/Audrey)
Kata Andi, PRD saat dibentuk bertujuan membuka demokrasi, bukan seperti PSI yang memberikan ruang kepada islamofobia. Sikap PSI itu disebut Andi sebagai contoh salah asuhan.

Lebih lanjut Andi menilai penolakan PSI terhadap Perda Syariah tak sejalan dengan prinsip negara demokrasi.

Andi berpendapat sebuah negara yang menganut paham demokrasi tak mungkin menolak sebuah produk yang dicapai dengan cara demokrasi.

"Ada kecenderungan yang kontradiktif, di satu sisi menginginkan kebebasan yang seluas-luasnya. Di sisi lain berupaya melarang sebesar-besarnya," kata Andi.

"Kami boleh bebas, tetapi anda tidak boleh, nanti jadi syariah. Mungkin dulu Belanda juga bilang pada kaum pergerakan hal yang sama."

Andi Arief Generasi Tua

Juru bicara PSI Rian Ernest merespons kritik itu dengan menyebut Andi Arief bagian dari generasi tua.

"Rezim old tidak bisa mencerna visi dan misi PSI. Tidak aneh menurut kami," ujar Rian kepada CNNIndonesia.com.

Rian juga menyebut tudingan Andi terkait islamofobia itu bertentangan dengan semangat merawat kebinekaan.

Ketimbang mengkritik PSI, Rian menyarankan Andi fokus mengurus Demokrat agar bisa memberikan contoh solidaritas dalam mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Rian melihat Demokrat gagal membangun solidaritas karena membebaskan calon legislatornya mendukung capres Joko Widodo.

"Demokrat sudah berikan contoh tidak solidnya mendukung Prabowo," ujarnya. (jps/wis)