Guru Besar Kriminologi dari Universitas Indonesia Adrianus Meliala mengatakan ada dua faktor yang pada umumnya menyebabkan orang tertipu, yakni faktor ceroboh dan tamak.
"Ceroboh itu karena dia tidak klarifikasi tidak mau check and recheck, mau cepat dan mau segera selesai. Faktor kedua yang greedy, rakus, ingin cepat kaya, ingin cepat dapat untung besar dengan cara yang mudah," kata dia, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (12/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan lupa bahwa dewasa ini ada kelasnya. Untuk orang pinter kelas penipuannya bukan receh tapi triliun," jelas dia, yang juga merupakan Anggota Ombudsman ini.
Kriminolog UI Adrianus Meliala di gedung Ombudsman, Jakarta, 2017. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho) |
"Ada riset klasik yang menyimpulkan bahwa perempuan merupakan salah satu kelompok individu yang memiliki suggestibility tinggi," kata dia.
"Artinya perempuan lebih mudah menerima sugesti, lebih rentan dipengaruhi, dan mungkin juga bisa dikatakan lebih gampang dikelabui," lanjut dia.
"Tanda-tandanya adalah keyakinan berlebihan bahwa yang bersangkutan akan mampu menangkal segala ancaman, sekaligus terhindar dari bahaya dan lolos dari risiko buruk. Inilah yang menyebabkan banyak orang terkecoh dengan sebuah penipuan," tutup dia.
Sebelumnya, komplotan penipu tersebut mengaku sebagai bagian dari Badan Intelejen Negara (BIN), Interpol, hingga anggota Istana Negara. Ratna dijanjikan bisa mencairkan dana raja-raja di Indonesia sebesar Rp23 triliun.
Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel. (CNN Indonesia/Yohannie Linggasari) |
Sebelum kasus kebohongannya tersebar, Ratna dikenal sebagai aktivis Hak Asasi Manusia (HAM). Ia mengkritik banyak kasus sejak masa Presiden Soeharto hingga masa Presiden Jokowi.
(ctr/arh)
Kriminolog UI Adrianus Meliala di gedung Ombudsman, Jakarta, 2017. (
Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel. (