Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf diyakini tak turun karena pernyataan Ma'ruf bukan untuk menyinggung kondisi fisik seseorang, melainkan hanya sebuah kiasan.
"Oh, tidak [menurunkan elektabilitas]. Karena dia tidak tujukan pada [fisik] orang, lebih pada penegasan saja. Bahwa kami yakin, yang dimaksudkan kiai Ma'ruf bagi orang yang sudah mendengar dan berbicara," kata Agung di Kawasan Menteng, Jakarta, Kamis (15/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, ia berharap ke depannya para anggota tim sukses lebih berhati-hati dan menghindari diksi-diksi politik yang bisa menyinggung masyarakat.
"Saya setuju kalau bahasa santun. Mudah-mudahan ke depan tidak terjadi seperti itu," kata dia.
Menurutnya kehadiran Ma'ruf Amin sebagai cawapres dapat mengisi kekurangan yang dimiliki Jokowi sebagai pendampingnya.
"Beliau seorang ulama besar. Beluau juga sudah lama di dunia politik. Jadi beliau tahu betul. Saya berkeyakinan beliau bisa mengisi kekurangan dan kekosongan pada pak Jokowi," ungkapnya.
Sejumlah penyandang tunanetra demo di kantor MUI, Rabu (14/11), menuntut Ma'ruf Amin minta maaf atas pernyataannya soal 'budek dan buta.' (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Ma'ruf telah mengklarifikasi pernyataannya itu dalam sejumlah kesempatan. Intinya, dia mengatakan bahwa ucapan 'budek dan tuli' tidak merujuk pada fisik. Melainkan merujuk pada dalam Alquran. Yang dimaksudnya adalah 'ṣummum, bukmun, 'umyun', yang tertera di surat al-Baqarah (2):18.
"Artinya orang yang tak mendengar, orang yang tak mau melihat, yang tak mau mengungkapkan kebenaran itu namanya bisu, budek, buta," papar Kiai Ma'ruf.
"Jadi itu bahasa 'kalau' ya. Saya tak menuduh orang, atau siapa-siapa. Saya heran, kenapa jadi ada yang tersinggung. Tak menuduh dia, kok," katanya menambahkan. (rzr/wis)
Sejumlah penyandang tunanetra demo di kantor MUI, Rabu (14/11), menuntut Ma'ruf Amin minta maaf atas pernyataannya soal 'budek dan buta.' (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)