Cerita Warga Soal Pengerukan Berujung Longsor di Kali Ancol

CNN Indonesia | Senin, 19/11/2018 17:39 WIB
Cerita Warga Soal Pengerukan Berujung Longsor di Kali Ancol Rumah ambles di pinggir Kali Ancol (Anak Kali Ciliwung), Senin (19/11). (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Norpot (43) terpaksa tidur bersama anak istrinya beralaskan kain di pinggir Kali Ancol (anak kali Ciliwung) di wilayah Pademangan, Jakarta Utara. Di sana, Norpot tidur bersama enam keluarga lainnya yang rumahnya ambles sebagian.

Peristiwa tanah ambles di bantaran Kali Ancol terjadi pada Minggu (18/11), merusak tujuh bangunan semi permanen dengan delapan kepala keluarga. Akibat kejadian itu 32 warga harus mengungsi di tenda pengungsian seperti Norpot yang terletak tak jauh dari lokasi.

Tidur mereka tak lelap. Bukan karena nyamuk atau dinginnya angin malam, melainkan rasa was-was dan takut. Norpot takut kalau tanah tempatnya tidur akan bergeser seperti tanah tempat rumahnya berdiri dulu.


Pergeseran itu membuat rumah Norpot yang berdiri di pinggir kali kini miring dan semakin menjorok ke tepian kali. 

Norpot menduga pemicunya adalah pengerukan endapan lumpur di Kali Ancol yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak pertengahan Oktober 2018.  

"Iya baru kemarin itu dikeruk, padahal ini lumpur endapan dari tahun 1992," kata Norpot kepada CNNIndonesia.com di tenda pengungsian, Senin (19/11).

Sebelum pengerukan Norpot tak merasakan ada yang aneh dengan rumahnya. Kejanggalan itu baru dialami setelah pengerukan.

Dia mengingat sejak dilakukan pengerukan ada empat longsor terjadi. Yang paling parah terjadi pada Minggu lalu yang membuat rumahnya menjorok ke kali.

Norpot masih merekam detik-detik rumahnya ambles. Sehari sebelum kejadian, tepatnya Sabtu sore, Norpot merasakan longsoran di rumahnya. 

Setelah itu dia menyaksikan sendiri muncul banyak retakan di tembok rumahnya. Tak lama setelah rangkaian peristiwa itu pohon asem tua yang berdiri di depan rumahnya pun tumbang. 

"Krieeet,,,krieet, kaya gitu lah bunyi. Ngeri juga kan. Terus kaya ada genteng jatuh segala macem. Abis itu langsung pada keluar semua," kata Norpot.

Dia menduga pohon asem itu tumbang akibat pengaruh pengerukan. "Ya, jadi kan bawahnya dikeruk, si (pohon) asem ini memang udah tumbuh di lumpur, dikeruk, ya tidak kuat dia," ungkap Norpot.

Kejadian itu membuat dia dan keluarga lain yang tinggal di bantaran kali memutuskan mengamankan semua barang berharga di rumah. Setelah itu mereka memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman.

"Kita yang bapak-bapak di sini aja. Nunggu, karena kan waktu itu listrik juga belum dicabut, itu yang paling menakutkan karena listrik belum dicabut takutnya roboh ke air, kebakaran, habis semua," kata dia.

Norpot sebenarnya tak keberatan dengan pengerukan Kali Ancol. Dia menilai langkah yang dilakukan Pemprov DKI itu baik karena bertujuan membersihkan kali, membuat pondasi, sekaligus mengeruk endapan lumpur di dasar kali.

Sayangnya, kata dia niat bagus itu tak dibarengi dengan nasib baik. Bukannya mengantisipasi banjir dan mempercantik sungai, justru rumah dia dan enam rumah lainnya amblas hingga tak bisa ditinggali.

"Ya tapi akhirnya jadi begini. Jadi gak ada rumah kita," kata Norpot.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku akan melakukan koreksi terkait prosedur pengerukan sungai yang memicu ambles sejumlah rumah di Pademangan.

"Ini akan menjadi bagian dari koreksi untuk lebih hati-hati di dalam kegiatan-kegiatan SDA," kata Anies di Balai Kota Jakarta.

Kepala Suku Dinas SDA Jakarta Utara Santo mengatakan amblesnya tanah tersebut disebabkan karena pengerukan dilakukan terlalu ke pinggir.

Sementara menurut Anies, amblesnya tanah diakibatkan kurang dalamnya pondasi turap di samping kanan-kiri sungai.

"Itu adalah tentang dinding-dinding kanan kiri yang tidak selalu memiliki pondasi yang cukup dalam," ujarnya.

Norpot sendiri hanya bisa pasrah dengan keadaanya sekarang. Dia kini tinggal di tenda seadanya yang dibangun Pemprov DKI melalui Dinas Sosial.

Soal ganti rugi dan kediaman baru dia tak mau berharap lebih. Apalagi, katanya, hingga saat ini dirinya dan warga lain yang menjadi korban tanah ambles itu belum mendapat kabar baik apapun.

"Ya gak muluk-muluk lah, kita juga sadar itu memang bukan tanah kita," katanya. (tst/wis)