Prajurit TNI Amankan Bom di Perkampungan Papua

CNN Indonesia | Kamis, 22/11/2018 11:43 WIB
Prajurit TNI Amankan Bom di Perkampungan Papua Prajurit TNI amankan bom di Kampung Skouw Mabo Papua. (Puspen TNI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah bom dengan panjang sekitar 125 sentimeter dan diameter 50 sentimer diamankan prajutir TNI dari Batalyon Infanteri Para Raider 328/Dirgahayu yang tergabung dalam Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Indonesia-Papua Nugini, Rabu (21/11).

Bom tersebut diamankan dari perkampungan Skouw Mabo, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua.


Menurut rilis Pusat Penerangan TNI, bom tersebut semula ditemukan seorang warga, Jacob Mallao (69), dari Kampung Skouw Mabo yang berada di perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Jacob menemukannya saat sedang menggali lubang guna membuat tempat sampah di sekitar rumahnya. Namun, pada saat kedalaman mencapai sekitar 50 sentimeter, tiba-tiba melihat sebuah benda mencurigakan seperti bom.

Jacob pun segera melapor ke Komandan Pos Ramil Muara Tami Lettu Inf Rakhmanto Adhy. Selanjutnya, Lettu Inf Rakhmanto Aldhy beserta anggota langsung ke tempat penemuan bom dan mengamankan lokasi sekitar dikarenakan temuan bom tersebut berada di sekitar rumah warga.


Saat ini, bom tersebut telah diamankan di Pos Ramil Muara Tami, Jayapura.

Komandan Satgas Yonif Para Raider 328/Dirgahayu Mayor Inf Erwin Iswari memperkirakan bom tersebut peninggalan sisa perang, bisa juga dari era perang dunia II (1939-1945). Keberadaan bom yang terkubur tersebut, kata dia, menyimpan ancaman bahaya terutama bagi penduduk sekitar.

"Hal ini sangat berbahaya mengingat besarnya ukuran bom tersebut dan berada di tengah-tengah rumah penduduk," ucapnya.

"Kami tidak mengetahui apakah bom tersebut masih aktif atau tidak, tapi tindakan pertama adalah untuk mengamankan bom tersebut menjauh dari warga," katanya.

Pulau Papua memang diketahui sebagai salah satu arena pertempuran pada masa Perang Dunia II. Sebagian wilayah di sekitar pulau paling timur Nusantara itu termasuk di Pulau Numfor dan Pulau Biak menjadi saksi bisu pertempuran pasukan sekutu dan Jepang.

(kid/dea)