Abi Sarwanto
Penulis mengawali karier di CNNIndonesia.com sejak 2015 setelah lulus dari Fisipol UGM. Sehari-hari meliput peristiwa politik, pertahanan keamanan, hukum, dan hak asasi manusia. Jarang berolahraga, gemar makan, dan jalan-jalan.

Mimpi Keluar dari Lingkaran Setan Kampanye Olok-olok

Abi Sarwanto, CNN Indonesia | Jumat, 30/11/2018 13:17 WIB
Mimpi Keluar dari Lingkaran Setan Kampanye Olok-olok Selama tiga bulan masa kampanye Pilpres 2019 masyarakat sangat minim mendapat materikampanye yang berbobot. (Antara/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Apa yang paling Anda ingat dari masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 selama dua bulan terakhir? Politik genderuwo, politikus sontoloyo, 'ditabok', dikompori, tampang Boyolali, atau tempe setipis ATM? 

Alih-alih beradu gagasan dan program seperti yang didengungkan saat deklarasi kampanye damai pada September lalu, perdebatan kedua kubu justru lebih banyak diwarnai saling tukar olokan, tudingan dan gimmick semacam itu.

Mimpi melihat kampanye yang beradu konsep, gagasan, dan program dalam pertarungan Joko Widodo versus Prabowo Subianto jilid II masih jauh panggang dari api, karena tenggelam ditelan hiruk-pikuk kampanye omong kosong.


Celakanya, ini diperparah oleh mayoritas media arus utama yang seolah terjebak membesar-besarkan.

Sepatutnya masyarakat sebagai penerima informasi di ruang publik mulai resah. Bagaimanapun juga, mereka berhak mendapat pendidikan politik dari kampanye ini dan bukan semata istilah yang membuat kegaduhan baru.

Bahkan seorang Fahri Hamzah yang sebenarnya ikut berpartisipasi dalam perdebatan minim makna ini--meski mengaku tak berafiliasi pada dukungan salah satu kubu--juga mulai menunjukkan keresahan.

"Dalam pilpres ini pastikan perdebatan kita menguntungkan rakyat, itu aja sebenarnya. Beri lah pencerdasan kepada rakyat. Jelaskan kepada rakyat bagaimana kita mengatasi masalah kita ke depan, itu yang penting," begitu kata Bung Fahri beberapa hari lalu saat menanggapi 'politik kompor'.

Lebih dari itu, saya menilai kondisi seperti sekarang ini tak datang begitu saja. Semua punya andil, baik masyarakat, Jokowi dan Prabowo, politisi kedua kubu, hingga media.

Pertama, dugaan saya, masyarakat sebagai penerima informasi di ruang publik yang seharusnya terkena dampak, justru sudah tak cukup acuh dan bosan atas manisnya janji-janji program atau gagasan kandidat selama masa kampanye.

Kedua, kondisi ini bisa jadi sengaja diciptakan Jokowi dan Prabowo selaku kontestan berikut tim pendukung masing-masing. Keduanya, jika ditanyakan soal program konkret, kerap kali hanya menjawab secara normatif.

Baik Jokowi dan Prabowo terkesan masih irit membicarakan program sebelum debat publik berlangsung. Padahal, sebagai petahana dan penantang, saling menyerang program akan sangat menarik dan bermanfaat bagi publik.

Setali tiga uang, tim sukses masing-masing kubu juga belum dapat secara gamblang memaparkan program-program unggulan. Dalihnya adalah masa kampanye yang panjang dari 23 September hingga 13 April 2019 sebagaimana ditetapkan Peraturan KPU Nomor 5 Tahun 2018.

"Nanti pada waktunya akan disampaikan [program]," ujar salah satu petinggi partai politik pengusung Prabowo-Sandiaga Uno ketika diskusi santai dengan wartawan beberapa waktu lalu.

Mimpi Keluar dari Lingkaran Setan Kampanye Olok-olok Pasangan capres-cswapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat ikrar kampanye damai Pemilu serentak 2019 di Monas, Jakarta (23/9). (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Sementara itu, yang ketiga, saya menduga ada kekhawatiran di berbagai media jika sajian berita kampanye yang dibawakan terkait program atau gagasan, akan sepi peminat dibanding yang bersifat kontroversi.

Meski tidak semua media, namun hampir sebagian besar memilih jalan tersebut. Tentu hal ini berkaitan dengan rating atau traffic yang saat ini menjadi 'Tuhan' dan nyawa dalam sebuah industri media.

Padahal, gelaran pemilu dijadikan ajang unjuk gigi kredibilitas baik media cetak, televisi, radio hingga online kepada masyarakat. Lebih penting adalah media yang menggunakan ruang publik, ikut memiliki tanggung jawab moril kepada masyarakat.

Pada akhirnya, semua ini terjadi menurut saya, seperti sebuah lingkaran setan. Saling bergantung dan saling menggantungkan satu sama lain.

Walau demikian, secara keseluruhan, bukan berarti saya tidak sepakat dengan kampanye bersifat gimmick. Kadang, kita perlu sesekali mendapat hiburan dan lelucon di tengah helatan kampanye.

Saya pun sepakat dengan pendapat seorang teman bahwa politik atau dalam konteks ini kampanye pilpres tidak harus melulu disajikan secara serius, entah itu program atau bicara hal teoritis yang tidak banyak dipahami masyarakat luas.

Kampanye yang bersifat gimmick juga diperlukan karena dianggap dapat membumikan bahasa politik yang terlampau berada di awang-awang.

Namun, proporsi pembagian antara kampanye gimmick dan yang bersifat substantif juga harus diperhatikan masyarakat, kandidat dan tim, hingga media.

Karena, pada hakikatnya masa kampanye bukan hanya sekadar mengajak masyarakat untuk memilih kandidat, melainkan juga mengenal visi, misi, program hingga karakter masing-masing.

Masyarakat sedang menunggu gebrakan program yang bernas dari Prabowo selaku penantang dan terobosan ciamik dari Jokowi sebagai petahana.

Masih ada sisa lima bulan bagi keduanya sebelum masa kampanye berakhir pada 13 April 2019. Saya berharap, di bulan Desember mendatang, mimpi melihat kampanye substantif yang beradu gagasan dan program, bukan hanya pepesan kosong belaka. (stu)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS