KPK Panggil Tiga Pengusaha Sebagai Saksi Idrus Marham

CNN Indonesia | Selasa, 18/12/2018 11:51 WIB
KPK Panggil Tiga Pengusaha Sebagai Saksi Idrus Marham Gedung Merah Putih KPK. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil para pengusaha yang diduga memberikan uang kepada mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih. Mereka akan diperiksa sebagai saksi bagi mantan Menteri Sosial Idrus Marham, tersangka suap kesepakatan kontrak kerja sama proyek PLTU Riau-1.

Mereka di antaranya, Direktur PT Smelting, Prihadi Santoso; Presiden Direktur PT Isargas, Iswan Ibrahim; dan Direktur PT One Connect Indonesia (OCI) Herwin Tanuwidjaja.

"Ketiga saksi akan dimintai keterangan untuk tersangka IM [Idrus Marham]," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Selasa (18/12).


Prihadi sebelumnya sempat diperiksa penyidik sebagai saksi untuk Idrus Marham pada Rabu 12 September 2018. Usai diperiksa, Prihadi sempat mengaku kerap diundang dalam acara yang digelar Komisi VII DPR.

Dalam surat dakwaan Eni, ketiga pengusaha itu disebut-sebut memberikan uang kepada kader Partai Golkar itu dengan jumlah bervariasi. Eni diduga menerima gratifikasi Rp5,6 miliar dan Sin$40 ribu.

Gratifikasi yang diterima Eni itu disinyalir diperuntukkan sebagai biaya pencalonan suaminya menjadi Bupati Temanggung M Al Khadziq.

Prihadi diduga mememberi Rp250 juta, Herwin memberikan Sin$40 ribu dan Rp100 juta, dan Iswan Ibrahim sejumlah Rp500 juta. Selain mereka bertiga, Eni juga diduga menerima uang dari PT Borneo Lumbung Energi & Metal, Samin Tan sejumlah Rp5 miliar.

Dalam kasus proyek PLTU Riau-1, KPK baru menjerat tiga orang sebagai tersangka, yakni Idrus, Eni, dan pemegang saham Blackgold Natural Recourses Limited Johannes B Kotjo. Idrus diduga secara bersama-sama dengan Eni menerima hadiah atau janji dari Johanes terkait proyek milik PT PLN itu.

Idrus disebut berperan sebagai pihak yang membantu meloloskan Blackgold untuk menggarap proyek PLTU Riau-1. Mantan Sekjen Golkar itu dijanjikan uang US$1,5 juta oleh Kotjo jika perusahaannya berhasil menggarap proyek itu.

(arh)