Jokowi mengaku setiap pekan rajin keluar masuk pondok pesantren. Seperti kemarin, Jokowi menyambangi empat pesantren di Jombang seperti Pesantren Darul Ulum, Pesantren Tebuireng, Pesantren Aba'ul Marif, dan Pesantrel Bahrul Ulum.
Selain itu menurut dia penetapan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober disebutnya juga merupakan keberpihakan Jokowi kepada para ulama. Adapun, ketentuan itu tercantum di dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi juga mengaku sering mendengar aspirasi ulama. Dia mencontohkan tarif jembatan Suramadu yang ia anulir lantaran mendengar keluhan ulama.
Jokowi pada 2015 memangkas tarif Jembatan Suramadu sebesar 50 persen. Belakangan sejumlah ulama menganggap tarifnya masih terlalu tinggi. Sehingga Jokowi memutuskan untuk menggratiskan tarif jembatan yang beroperasi sejak 2009 silam itu.
Pemerintah saat ini juga tengah menggodok Rencana Undang-Undang (RUU) Pondok Pesantren agar mendapat pengakuan dari negara dan bisa mendapatkan dukungan dari APBN maupun APBD.
"Kemarin sudah saya sampaikan ke Menteri Agama maksimal RUU ini sudah masuk ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)," imbuh dia.
Hari ini Jokowi menghadiri deklarasi ulama se-Madura di Bangkalan. Sebanyak 5.000 ulama berkumpul di Gedung Serba Guna Rato Ebuh yang berasal dari daerah seperti Sampang, Pamekasan, Sumenep, dan Bangkalan.
Di dalam deklarasi itu, ulama sepakat mendukung Jokowi karena menggratiskan tol Suramadu dan memilih Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden. Sekretaris panitia Deklarasi Akbar Ulama Madura RKH Nuruddin A. Rahman mengatakan, hal itu dianggap sebagai penghormatan dan kehormatan kepada ulama.
"Dalam rangka ulama tersirat Pak Jokowi bisa menjadi presiden periode 2019-2024. Disertai harapan dan ulama Madura bahwa presiden dan wakil presiden terpilih untuk mempercepat pembangunan Madura," jelas dia. (glh/gil)