"Ya tidak menutup kemungkinan. Kita lihat juga nanti kadiv itu apakah dia ketika mensubkontrakkan apakah termasuk korporasi dan upaya-upaya yang dilakukan supaya tidak ada pekerjaan fiktif," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata yang ditemui usai Konferensi Pers Kinerja Akhir Tahun KPK 2018, Rabu (19/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peran korporasi dalam kasus korupsi memang menjadi incaran KPK belakangan ini. KPK belum lama berhasil menjatuhkan tuntutan untuk pertama kalinya kepada korporasi dalam kasus dugaan korupsi pada November kemarin.
PT NKE juga dituntut tidak lagi memiliki hak mengikuti lelang proyek pemerintah selama 2 tahun.
"KPK berharap ke depan korporasi lebih serius menghindari dan mencegah korupsi karena risiko yang sangat besar tersebut," Wakil Ketua KPK Saut Situmorang yang ditemui di tempat yang sama.
Saut mengatakan saat ini setidaknya ada tiga korporasi yang mulai disidik. Ketiganya adalah PT Nindya Karya, PT Tuah Sejati, dan PT Putra Ramadhan atas dugaan tindak pidana korupsi serta tindak pidana pencucian uang.
Selain itu, baru saja jaksa KPK memasukkan PT Lippo Cikarang Tbk ke dalam surat dakwaan Direktur Operasional Lippo Group, Billy Sindoro; pegawai Lippo Group, Henry Jasmen; serta dua konsultan Lippo Group yaitu Taryudi dan Fitra Djaja Purnama, terkait kasus proyek Meikarta.
Lippo Cikarang diduga bersama-sama empat terdakwa, Kepala Departemen Land Acquisition Perijinan Edi Dwi Soesianto dan mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk, Toto Bartholomeus menyerahkan uang yang seluruhnya berjumlah Rp16,1 miliar dan Sin$270 ribu.