Diketahui, Trump menggunakan strategi menyerang media dengan sebutan 'fake news' dan sejenisnya sejak Pilpres AS 2016. Hal itu dipandang sebagai bagian strategi kampanye untuk membuat pemilih beralih dari media mainstream kepada media sosial serta menyebar pesimisme.
Menurutnya, hal itu terkait dengan objektivitas media, terutama yang dimiliki oleh politikus yang memimpin partai politik tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hashim Djojohadikusumo. (CNN Indonesia/Oscar Ferry) |
"Ini dirasakan Prabowo dan Sandi, juga saya, seolah-olah sebagian dari media tidak fair, tidak adil. Bukan rahasia lagi sebagian dari media ada hubungan dengan partai tertentu, saya kira sudah jelas, memang tidak ditutupi, ada kelompok media yang dimiliki salah satu partai, terus ada satu lagi [dimiliki] partai lain," tuturnya, tanpa merinci nama medianya.
"Saya katakan, hei media-media yang tidak mau mengatakan ada belasan juta orang atau minimal berapa juta orang di situ, kau sudah tidak berhak menyandang predikat jurnalis lagi. kau boleh kau cetak, boleh kau ke sini dan ke sana, saya tidak mengakui anda sebagai jurnalis," ujar Prabowo, di Hari Disabilitas Internasional, Rabu (5/12).
Selain itu, ada sejumlah pernyataan keras Prabowo kepada media dan para jurnalis sejak sebelum Pilpres 2014.
![]() |
(arh/sur)
Hashim Djojohadikusumo. (CNN Indonesia/Oscar Ferry)