Responden Median Tak Setuju Reuni 212 Pecah Belah Bangsa

CNN Indonesia | Senin, 21/01/2019 19:16 WIB
Responden Median Tak Setuju Reuni 212 Pecah Belah Bangsa Reuni Aksi 212 di Monas, Jakarta, Minggu 2 Desember 2018. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Media Survei Nasional (Median) menyebut mayoritas respondennya menyatakan gelaran Reuni Aksi 212 pada 2 Desember 2018 tak memecah belah bangsa Indonesia.

Hal itu disampaikan peneliti Median Rico Marbun saat memaparkan hasil surveinya di kawasan Jakarta Pusat, Senin (21/1).

Rico mencatat sebanyak 66,6 persen responden tak setuju bila Aksi Reuni 212 di Monas lalu dapat memperkeruh suasana dan memecah belah persatuan bangsa.



Sebanyak 22,5 persen responden setuju bila aksi itu dapat memperkeruh suasana dan memecah belah persatuan bangsa. Sedangkan 10,9 persen tak menjawab pertanyaan.

"Jadi mayoritas responden menyebut reuni aksi 212 tak memperkeruh dan memecah belah bangsa," kata Rico.

Lebih lanjut, Rico menyatakan tingkat penerimaan masyarakat di berbagai daerah tergolong tinggi untuk berpartisipasi apabila Aksi Reuni 212 di gelar di wilayah masing-masing.

Ia menyatakan sebanyak 41,1 persen responden mendukung bila aksi itu digelar di daerahnya masing-masing.


Lalu, sebanyak 20 persen responden tak mendukung dan 38,9 persen belum menentukan sikap dan tak menjawab.

"Jadi ini menunjukan tingkat penerimaan publik terhadap aksi 212 sangat besar," kata dia.
Responden Median Tak Setuju Reuni 212 Pecah Belah BangsaPasangan capres dan cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Pencitraan Jokowi

Hasil Survei Median juga menyebut sebagian besar responden menilai Jokowi melakukan pencitraan jelang Pilpres 2019 jika kasus hukum yang membelit Imam Besar FPI Rizieq Shihab dihentikan dan diampuni.

Hingga kini Rizieq masih berada di Arab Saudi sejak Mei 2017, dua minggu setelah polisi menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan konten pornografi.

Akan tetapi, pada 2018 polisi kemudian menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) untuk menghentikan kasus tersebut.

Ia menyatakan sebanyak 23,91 persen responden menyatakan Jokowi melakukan pencitraan. Lalu sebesar 10,56 persen mengatakan Jokowi tulus melakukannya dan 65,52 persen tak tahu.

"Jokowi masih perlu membentuk opini positif meskipun ada pembebasan terhadap aktivis-aktivis Islam seperti Rizieq, karena masih banyak yang menganggap langkah ini sebagai pencitraan," kata dia


Hasil survei Median ini dilakukan pada 6-15 Januari 2019. Survei ini memakai jawaban dari 1.500 responden yang tersebar di semua provinsi.

Margin of error dari sampel mereka sekitar 2,5 persen. Metodologi yang digunakan adalah multistage random sampling dan proporsional.

Pada akhir 2018 lalu, lembaga survei lainnya, LSI Denny JA menyebut Reuni Aksi 212 gagal menggerus elektabilitas pasangan capres dan cawapres, Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Elektabilitasnya mencapai 54,2 persen. Sementara lawannya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat 30,6 persen.

Selama ini Reuni 212 kerap diasosiasikan dengan para pendukung Prabowo-Sandi. Bahkan Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif menjabat wakil ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. (rzr/pmg)