TGB: Jangan Jadikan Khotbah Jumat Buat Kepentingan Politik

CNN Indonesia | Jumat, 08/02/2019 08:36 WIB
TGB: Jangan Jadikan Khotbah Jumat Buat Kepentingan Politik Politkus Partai Golkar yang juga eks Gubernur NTB TGB Muhammad Zainul Majdi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) meminta semua pihak tidak memanfaatkan khotbah Jumat untuk kepentingan politik, terutama menjelang Pilpres 2019. Menurutnya, khotbah salat Jumat harus diisi dengan materi yang mencerahkan spiritual umat.

"Khotbah Jumat itu untuk wasiat takwa, bukan untuk kepentingan elektoral atau kemudian dibungkus untuk suatu kepentingan politik jangka pendek," ujar TGB di Posko Cemara, Jakarta, Kamis (7/2).

TGB menuturkan khotbah salat Jumat merupakan ruang untuk ber-Islam. Sehingga momentum itu harus dimanfaatkan untuk menghadirkan pesan-pesan kebaikan bagi semua umat.


"Jadi sudahi ekploitasi rumah ibadah, mimbar-mimbar khotbah, majelis-majelis taklim. Saatnya kita sekarang bersama-sama sebagai bagian dari bangsa yang besar mengembalikan semua medium itu menjadi tempat dakwah," ujar politikus Partai Golkar ini.

Lebih lanjut, TGB mengatakan salat Jumat di Indonesia sangat istimewa di bandingkan dengan negara lain. Di Indonesia setiap orang bisa mengisi khotbah Jumat hanya lewat persetujuan panitia atau takmir masjid.

Sementara di Mesir misalnya, setiap orang yang akan mengisi khotbah salat Jumat harus memenuhi persyaratan dan memiliki kompetensi. Bahkan, untuk naik mimbar salat Jumat di Mesir juga harus mendapat izin tasri atau izin dari kementerian wakaf.

"Kalau di Indonesia ini kita memiliki kemewahan ber-Islam yang harus kita jaga. Dalam arti jangan kemudian diisi dengan hal-hal yang justru merusak keberislaman kita," ujarnya.

Di sisi lain, TGB juga mengingatkan semua pihak untuk berhenti menyebar selebaran yang bersifat hoaks atau fitnah di masjid-masjid. Ia menilai hal itu akan membuat orang ragu ke masjid karena khawatir terpapar dengan hal yang tidak baik.

Masjid, kata dia, sebagaimana pertama kali dibangun oleh Rasulullah adalah untuk membangun pribadi yang beriman, bertakwa, dan kontributif.

"Itu hanya bisa terjadi kalau kita pastikan rumah ibadah kita itu benar-benar bisa terjaga diri hal-hal yang sifatnya hoaks apalagi fitnah," ujar TGB. (jps/osc)