RSKO: Andi Arief Tak Wajib Jalani Konsultasi Medis

CNN Indonesia | Rabu, 13/03/2019 07:20 WIB
RSKO: Andi Arief Tak Wajib Jalani Konsultasi Medis Politikus Partai Demokrat Andi Arief. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Unit Hubungan Masyarakat Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO), Jakarta, Bagus Aryo Wibowo mengatakan eks Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief tidak wajib melanjutkan konsultasi medis. Dia mengatakan pihaknya juga tidak dapat memaksa Andi untuk terus konsultasi terkait penggunaan narkoba.

"Enggak ada (kewajiban). Terserah si pasien. Mau dilanjutkan atau tidak. Dia mau datang lagi silakan. Enggak datang lagi juga ya monggo. Enggak jadi masalah," tutur Aryo di RSKO, Jakarta, Selasa (12/3).

Bagus menegaskan bahwa Andi berstatus pasien sukarela. Andi bukan pasien titipan dari kepolisian, kejaksaan, atau Badan Narkotika Nasional (BNN). Hal itu dikarenakan sejauh ini RSKO tidak menerima surat apa pun dari suatu lembaga hukum yang sebelumnya mengusut kasus penggunaan narkoba oleh Andi.


Meski Andi tidak wajib kembali menjalani konsultasi medis, Bagus enggan membeberkan kondisi kesehatan eks aktivis 1998 tersebut. Dia tidak mau mengatakan apakah Andi benar-benar pengguna narkoba atau bukan. Bagus merasa tidak memiliki kewenangan untuk bicara soal itu.

Bagus juga mengatakan Andi dan RSKO tidak wajib memberikan hasil konsultasi yang telah dijalani sejauh ini kepada suatu lembaga hukum. Alasannya, Andi bukan pasien titipan, melainkan pasien sukarela seperti pada umumnya.

"Kalau dari kepolisian dan kejaksaan itu meminta kita dengan permohonan, kita bisa (memberikan hasil konsultasi medis). Cuma masalahnya kan tidak ada permohonan kita memperlakukan Pak AA ini sebagai pasien biasa. Normal-normal saja," kata Bagus.

Bagus menambahkan baru kali ini mendapati kasus seperti Andi. Umumnya, seseorang yang ditetapkan sebagai pengguna oleh kepolisian atau BNN akan menjadi pasien titipan saat dibawa ke RSKO. Berbeda halnya dengan Andi yang saat ini menjalani konsultasi atas keinginan sendiri atau berstatus pasien sukarela.

"Selama ini kayaknya belum pernah ya. Selama saya di RSKO belum pernah. Yang ada adalah titipan dengan surat dari kejaksaan atau BNN, masuk di sini ya statusnya tahanan," ujar Bagus.

Diketahui, kepolisian menangkap Andi di Menara Peninsula, Jakarta, pada Minggu (3/3). Setelah itu, kepolisian menyatakan Andi adalah pengguna narkoba jenis sabut setelah melakukan tes urine.

Kepolisian lalu melimpahkan Andi ke Badan Narkotika Nasional (BNN). Kesimpulan BNN sama, yakni Andi adalah pengguna dan harus menjalani rehabilitasi.

Andi lantas menjalani konsultasi medis pertama kali di RSKO Cibubur, Jakarta pada Jumat (8/3) atau lima hari setelah penangkapan.

Pihak RSKO menguji kembali urine Andi. Hasilnya, merujuk dari dokumen yang diberikan Andi kepada CNNIndonesia.com, berbeda dengan yang dilakukan kepolisian. Urine Andi dinyatakan negatif dari kandungan narkoba. (bmw/osc)