Analisis

Badan Riset Nasional ala Ma'ruf Tak Cukup Obati Masalah

CNN Indonesia | Senin, 18/03/2019 14:45 WIB
Badan Riset Nasional ala Ma'ruf Tak Cukup Obati Masalah Cawapres Ma'ruf Amin dalam debat menyampaikan gagasan untuk meleburkan lembaga-lembaga riset secara nasional. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam debat cawapres tadi malam, Ma'ruf Amin mengatakan lembaga-lembaga riset yang ada di Indonesia harus dilebur menjadi satu, yakni badan riset nasional.

Menurut calon wakil presiden nomor urut 01 itu, penggabungan perlu dilakukan karena selama ini dana riset cenderung tersebar di sejumlah kementerian dan lembaga.

"Nanti akan kami satukan akan kami bentuk badan riset nasional," tutur Ma'ruf dalam debat cawapres di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3).


Sebetulnya, wacana peleburan lembaga-lembaga riset menjadi satu bukan barang baru. Isu tersebut pertama kali dilontarkan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir pada 2018 lalu. Dia mengaku sudah mengusulkan itu kepada Presiden Joko Widodo.

"Saya mengusulkan kepada Bapak Presiden bagaimana ke depan lembaga riset dijadikan satu yaitu melalui badan seperti di China dan Jerman, " kata Nasir di Karawang, Jawa Barat, Senin (3/9/2018).

Pengamat Pendidikan dari Center of Education, regulation, and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji mengatakan bahwa aspek utama yang perlu disoroti dalam hal riset dan penelitian Indonesia adalah jumlahnya yang tergolong minim. Apabila ada pengintegrasian lembaga-lembaga riset, justru semakin memperkecil jumlah riset.

"Jumlah riset kita kan kurang banget. Kalau digabung malah tambah sedikit nanti output-nya," ucap Indra saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (18/3).

Indra mengatakan bahwa jumlah riset yang minim bukan akibat dari struktur kelembagaan. Karenanya, tidak ada urgensi dari rencana pengintegrasian lembaga-lembaga riset jika ingin meningkatkan jumlah riset.

"Problemnya kan bukan struktur lembaganya yang perlu dirapikan. Jumlah risetnya yang minim karena tidak didorong ke sana. Tinggal ubah kebijakan saja, nggak perlu ubah struktur," tutur Indra.

Indra lantas mengusulkan agar pemerintah lebih mendorong perguruan tinggi untuk meningkatkan jumlah riset. Dia mengatakan bahwa orientasi perguruan tinggi di Indonesia berbeda dengan di beberapa negara lain.

Menurutnya, perguruan tinggi lebih diutamakan untuk melahirkan riset daripada proses belajar mengajar. Indra mengatakan itu bisa dilakukan dalam rangka meningkatkan produksi riset yang berkualitas.

"Saran saya manfaatkan saja perguruan tinggi yang ada untuk fokus utama ke riset, bukan ke mengajar lagi. Di negara lain PT (perguruan tinggi) tugas utamanya riset. Mengajar baru nomor 2," imbuh Indra.
Badan Riset Nasional ala Ma'ruf Dinilai Tak Obati MasalahDalam debat cawapres, Minggu (17/3), mempertemukan Ma'ruf Amin melawan Sandiaa Uno. (CNN Indonesia/Andry Novelino).

Banyak Masalah soal Riset

Terpisah, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Handoko mengatakan bahwa masalah riset di Indonesia tersebar ke berbagai aspek. Mulai dari sumber daya manusia, baik segi kualitas maupun kuantitas, lalu infrastruktur serta anggaran.

"Masalah fundamental riset di Indonesia adalah rendahnya critical mass di semua aspek," kata Handoko saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (17/3).

Handoko tidak mengatakan secara gamblang mendukung integrasi lembaga-lembaga riset ala Ma'ruf. Dia hanya mengatakan bahwa LIPI akan berupaya melaksanakan keputusan yang diambil pemerintah selanjutnya dalam rangka menyelesaikan masalah-masalah riset.

Para peneliti LIPI pun harus bersikap profesional dan siap. Handoko menyebut periset profesional harus memiliki loyalitas dan profesinya, yakni aktifitas berbasis riset.

"Apapun model yang akan dibangun pemerintah ke depan, termasuk BRN, kami berusaha mengawal agar mampu mempercepat penyelesaian masalah critical mass ini.," kata Handoko.

"Sehingga riset di Indonesia semakin cepat berkembang, dan mampu berkontribusi secara signifikan untuk mencapai Indonesia yang maju ke depan," lanjutnya.


TKN Anggap Jokowi-Ma'ruf Komitmen

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Hasto Kristiyanto menganggap pernyataan Ma'ruf tersebut membuktikan bahwa pasangan Jokowi-Ma'ruf berkomitmen mengembangkan riset nasional. Dia menekankan betapa pentingnya riset sebagai ukuran kemajuan sebuah bangsa.

"Di situlah anak bangsa diberi ruang untuk melakukan riset kembangkan kemampuan negeri," kata Hasto melalui keterangan pers, Senin (18/3).

Hasto menegaskan bahwa Ma'ruf juga sekaligus memberikan terobosan baru. Dia justru mengkritik Sandiaga Uno yang hanya mengulas masalah tanpa memberikan solusi konkret.

"Sebaliknya Sandi hanya terpaku pada kritik atas program Jokowi tanpa diferensiasi program; tanpa terobosan," ucap Hasto. (bmw/osc)