Menurut calon wakil presiden nomor urut 01 itu, penggabungan perlu dilakukan karena selama ini dana riset cenderung tersebar di sejumlah kementerian dan lembaga.
"Nanti akan kami satukan akan kami bentuk badan riset nasional," tutur Ma'ruf dalam debat cawapres di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mengusulkan kepada Bapak Presiden bagaimana ke depan lembaga riset dijadikan satu yaitu melalui badan seperti di China dan Jerman, " kata Nasir di Karawang, Jawa Barat, Senin (3/9/2018).
"Jumlah riset kita kan kurang banget. Kalau digabung malah tambah sedikit nanti output-nya," ucap Indra saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (18/3).
"Problemnya kan bukan struktur lembaganya yang perlu dirapikan. Jumlah risetnya yang minim karena tidak didorong ke sana. Tinggal ubah kebijakan saja, nggak perlu ubah struktur," tutur Indra.
Indra lantas mengusulkan agar pemerintah lebih mendorong perguruan tinggi untuk meningkatkan jumlah riset. Dia mengatakan bahwa orientasi perguruan tinggi di Indonesia berbeda dengan di beberapa negara lain.
Menurutnya, perguruan tinggi lebih diutamakan untuk melahirkan riset daripada proses belajar mengajar. Indra mengatakan itu bisa dilakukan dalam rangka meningkatkan produksi riset yang berkualitas.
"Saran saya manfaatkan saja perguruan tinggi yang ada untuk fokus utama ke riset, bukan ke mengajar lagi. Di negara lain PT (perguruan tinggi) tugas utamanya riset. Mengajar baru nomor 2," imbuh Indra.
Dalam debat cawapres, Minggu (17/3), mempertemukan Ma'ruf Amin melawan Sandiaa Uno. (CNN Indonesia/Andry Novelino). |
Banyak Masalah soal Riset
Terpisah, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Handoko mengatakan bahwa masalah riset di Indonesia tersebar ke berbagai aspek. Mulai dari sumber daya manusia, baik segi kualitas maupun kuantitas, lalu infrastruktur serta anggaran.
"Masalah fundamental riset di Indonesia adalah rendahnya critical mass di semua aspek," kata Handoko saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (17/3).
Para peneliti LIPI pun harus bersikap profesional dan siap. Handoko menyebut periset profesional harus memiliki loyalitas dan profesinya, yakni aktifitas berbasis riset.
"Apapun model yang akan dibangun pemerintah ke depan, termasuk BRN, kami berusaha mengawal agar mampu mempercepat penyelesaian masalah critical mass ini.," kata Handoko.
"Sehingga riset di Indonesia semakin cepat berkembang, dan mampu berkontribusi secara signifikan untuk mencapai Indonesia yang maju ke depan," lanjutnya.
TKN Anggap Jokowi-Ma'ruf Komitmen
Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Hasto Kristiyanto menganggap pernyataan Ma'ruf tersebut membuktikan bahwa pasangan Jokowi-Ma'ruf berkomitmen mengembangkan riset nasional. Dia menekankan betapa pentingnya riset sebagai ukuran kemajuan sebuah bangsa.
"Di situlah anak bangsa diberi ruang untuk melakukan riset kembangkan kemampuan negeri," kata Hasto melalui keterangan pers, Senin (18/3).
Hasto menegaskan bahwa Ma'ruf juga sekaligus memberikan terobosan baru. Dia justru mengkritik Sandiaga Uno yang hanya mengulas masalah tanpa memberikan solusi konkret.
"Sebaliknya Sandi hanya terpaku pada kritik atas program Jokowi tanpa diferensiasi program; tanpa terobosan," ucap Hasto. (bmw/osc)
Dalam debat cawapres, Minggu (17/3), mempertemukan Ma'ruf Amin melawan Sandiaa Uno. (CNN Indonesia/Andry Novelino).