Survei CSIS: Dari 1,6 Persen Peduli Lingkungan, Jokowi Unggul

CNN Indonesia | Kamis, 11/04/2019 00:53 WIB
Berdasarkan hasil survei terbaru, CSIS menemukan bahwa isu lingkungan hidup kurang seksi di mata pemilih yakni hanya 1,6 persen dibandingkan isu-isu ekonomi. Ilustrasi masyarakat peduli lingkungan hidup. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Survei Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan isu lingkungan hidup kurang seksi dibandingkan dengan isu ekonomi dan masalah sosial di mata pemilih Pemilu 2019.

Peneliti CSIS Puspa Delima Amri mengatakan hanya 1,6 persen responden yang mengatakan isu kerusakan lingkungan merupakan hal yang penting. Responden lebih memilih isu harga sembako (23 persen) isu kemiskinan (19 persen) dan isu lapangan pekerjaan (14 persen).


Survei tersebut dilakukan CSIS pada Maret 2019. Survei menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jumlah sampel 1.960 responden yang dipilih secara acak bertingkat (multstage random sampling) mewakili 34 provinsi.


"Lingkungan hidup tidak penting dibandingkan isu isu ekonomi dan social welfare (kesejahteraan sosial)... Dibandingkan ekonomi, isu lingkungan hidup kurang seksi," kata Puspa saat memaparkan hasil survei di Kantor CSIS, Jakarta Pusat, Rabu (10/4).

Dalam kesempatan yang sama Ketua Departemen Ekonomi CSIS Yose Rizal Damuri mengatakan dari 1,6 persen responden tersebut, 63,6 persen mengatakan akan memilih calon petahana Joko Widodo.

Sementara itu, sebanyak 15,7 persen responden akan memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Mayoritas yang Peduli Lingkungan Pilih Jokowi

Yose mengatakan dari 1,6 persen responden yang menganggap penting isu kerusakan lingkungan, mayoritas responden mengatakan program pemerintah di bidang lingkungan hidup sudah berhasil.

"57,2 persen bilang pemerintah berhasil terkait kinerja pemerintah nasional di program pelestarian alam dan lingkungan hidup. 34 persen bilang tidak berhasil," ujar Yose.

Yose mengatakan dari angka 57,2 persen tersebut, 71 persen mengatakan akan memilih calon petahana. Sementara 23 persen bilang akan memilih oposisi.

Yose mengatakan memang ada korelasi positif antara persepsi lingkungan hidup dengan preferensi politik. Akan tetapi, korelasi ini kurang berdampak karena hanya sedikit orang yang menganggap penting isu lingkungan hidup.

"Kelihatan memang ada korelasi positif antara keberhasilan dari pasangan calon dengan voting behavior. Akan tetapi memang masih lemah dan kurang berdampak," kata Yose.

(jnp/kid)