Penderita Gangguan Jiwa Keluhkan Banyak Gambar Caleg 2019

CNN Indonesia | Rabu, 17/04/2019 14:51 WIB
Penderita Gangguan Jiwa Keluhkan Banyak Gambar Caleg 2019 Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) mengantre sebelum mencoblos pada Pemilu 2019. (CNN Indonesia/Dini Nur Asih)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah orang dengan gangguan jiwa di Panti Bina Laras Harapan Sentosa 3, Grogol, Jakarta Barat, menggunakan hak suaranya pada Pemilu 2019. Mereka mengeluhkan banyak gambar calon legislatif di surat suara dan kebingungan saat ingin memilih caleg.

"Bingung. Banyak gambar caleg," kata Iwan salah satu penghuni Panti Bina Laras Harapan Sentosa 3 kepada CNNIndonesia.com, Rabu (17/4).

Penghuni lainnya yang enggan menyebutkan nama juga sempat kebingungan saat memilih caleg untuk anggota DPR RI, DPD RI dan DPRD Provinsi periode 2019-2024. Namun soal pilpres, menurutnya lebih mudah.


"Iya. Sempat bingung, banyak gambarnya (caleg)," ujar dia.


Sementara Ruyani, penghuni lain, juga mengaku tahu dua capres dan cawapres yang berkompetisi di Pilpres 2019. "Tahu, nomor 01 Jokowi dan nomor 02 Prabowo," katanya.

Di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 3, Grogol, Jakarta Barat penghuni yang mendapatkan hak pilih sebanyak 466 orang dari total 537 penghuni.

Terdapat empat TPS yang ada di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 3 ini yakni 126, 127, 128 dan 022. Setiap penghuni yang ingin mencoblos didampingi oleh petugas dari Dinas Sosial panti untuk diarahkan ke tempat pencobolosan serta cara memasukkan surat suara sesuai dengan kategori.


Satuan Pelaksana Dinas Sosial Panti Bina Laras Harapan Sentosa 3 Budiman AS menjelaskan warga binaan yang dapat memilih dalam pemilu adalah mereka yang nasuk fase pemberdayaan atau siap dipulangkan ke pihak keluarga.

"Jadi ini panti sudah dianggap pulih secara kejiwaannya makanya mereka punya hak untuk memilih," kata Budiman.

Penderita Gangguan Jiwa Keluhkan Banyak Gambar Caleg 2019Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Panti Bina Laras Harapan Sentosa 3, Grogol, Jakarta Barat, menggunakan hak pilihnya, Rabu(17/4). (CNN Indonesia/Dini Nur Asih)
Dia mengatakan mereka yang dianggap pulih karena bisa menerima informasi, melaksanakan perintah, dan punya inisiatif.

"Artinya mereka sudah bisa dalam hatinya 'Aku mau pilih si A' gitu jadi tidak perlu ada komando 'Pilih si A ya, pilih si B'," tambahnya.

Selain itu, kata Budiman, warga binaan sosial di tempatnya tidak memerlukan surat dari dokter untuk bisa memilih.

"Enggak. Kalau masalah Dokter Kejiwaan, panti kita ini berobat setiap hari, mereka mengonsumsi obat setiap hari, obat jiwa," tuturnya.

Panti Bina Laras Harapan Sentosa 3 sendiri telah menerima sosialisasi dari KPU terkait mekanisme pencoblosan sekaligus simulasi kepada warga binaan sosial.

Dari pantauan CNNIndonesia.com, warga binaan sosial dibagi menjadi empat TPS dan menggunakan kaos berwarna yakni ungu, oranye, merah muda dan hijau yang sesuai dengan tempat mereka memberikan hak suara.

Di masing-masing TPS, mereka didampingi satu Petugas Dinas Sosial untuk mengarahkan mereka ke tempat pencoblosan dan memasukkan surat suara ke kotak suara yang sudah dibedakan.

(dni/pmg)