Koordinator Aksi, Dina Tanjung, mengatakan pemilu kali ini dinodai dengan sejumlah indikasi kecurangan yang terstruktur, masif, dan brutal. Pihaknya mengaku sudah mengantongi sejumlah barang bukti dan telah dilaporkan ke Bawaslu untuk ditindaklanjuti. Salah satunya yakni ketidakcocokan input form C1 di sejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Palembang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maka dari itu kami tidak mau untuk yang kedua kalinya kami dicurangi, tahun 2014 sudah ada bukti. Sekarang lebih luar biasa, mulai dari penggelembungan suara seratus suara, dua ratus suara hingga beribu-ribu suara. Hal itu nyata terjadi. Belum lagi petugas KPPS yang meninggal patut dicurigai. Serta adanya kriminalisasi ulama," kata dia.
Salah satu perwakilan aksi yang diterima Bawaslu, Yusman, mengatakan tuntutan dan laporan yang mereka lakukan sudah diterima oleh Bawaslu. Terutama terkait salah input C1 yang dilakukan oleh KPU Kota Palembang.
Komisoner Bawaslu Sumsel Yenli Elmanoferi mengatakan pihaknya sudah menerima aduan terkait dugaan kecurangan pemilu tersebut. Pihaknya akan segera memanggil Bawaslu Kota Palembang yang sudah melakukan pembahasan laporan tersebut untuk segera dijabarkan rekomendasinya.
Berdasarkan hasil real count KPU, dengan data masuk 84 persen, pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih 59,13 persen suara di Sumsel, alias unggul dari paslon 01 yang mendapat 40,87 persen suara.
[Gambas:Video CNN] (idz/arh)