Pada 2015, 'Beringin' terbelah menjadi dua kubu, yakni kubu kepengurusan hasil Musyawarah Luar Biasa (Munalsub) Ancol yang dipimpin Agung Laksono, dan kubu kepengurusan Munaslub Bali dengan ketua umumnya Aburizal Bakrie alias Ical. Proses hukum panjang ditempuh kedua kubu untuk mendapat pengesahan kepengurusan.
Agung dan Ical kemudian sepakat islah dan mengamanatkan gelaran Munsalub di Bali, pada 2016. Keduanya sepakat tak mencalonkan diri. Setya Novanto kemudian terpilih menjadi Ketua Umum Golkar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada, kasus korupsi menimpa PPP saat ketua umumnya, M Romahurmuziy alias Romi, terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. Sialnya, itu terjadi sebulan sebelum Pileg 2019. Ia ditangkap dalam kasus dugaan jual beli jabatan di Kementerian Agama. Nama Menteri Agama yang juga kader PPP Lukman Hakim Saifuddin pun disebut-sebut.
Mantan Ketum PPP Romahurmuziy menjadi tersangka kasus jual beli jabatan di Kemenag. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf) |
Menurut hasil rekapitulasi suara nasional KPU, Partai Golkar meraih posisi ketiga dengan raihan 17.229.789 suara (12,31 persen). Meski jauh di atas ambang batas parlemen dan meraih posisi kedua, persentase suara kali ini menunjukkan tren menurun dari pemilu-pemilu sebelumnya. Yakni, 14,75 persen (2014), 14,45 persen (2009), 21,58 persen (2004), dan 22,46 persen (1999).
Sementara, PPP meraih posisi kesembilan dengan 6.323.147 suara atau 4,52 persen. Angka ini juga melemah dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Yakni, 6,53 persen (2014), 5,32 persen (2009), 8,15 persen (2004), dan 10,71 persen (1999).
"Kasus korupsi nyata bisa menjadi tsunami elektoral partai. Kasus Romi jelas menurunkan elektabilitas PPP, begitu pula dengan Setnov. Partai ini kan soal memenangkan citra," kata Pangi kepada CNNIndonesia.com, Senin (20/5).
Namun, kata dia, ada perbedaan antara keduanya. Bahwa, PPP tak memiliki mesin partai sekuat Golkar. Golkar pun dianggap tidak bergantung hanya pada satu sosok kepemimpinan seperti PPP menggantungkan nasibnya pada satu orang tokoh.
Gedung Merah Putih KPK. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Begitu ketua umumnya tersandera kasus korupsi, langsung merembes ke perolehan suara PPP," lanjut Pangi.
Sementara itu, Pangi berpendapat masyarakat masih berpikir rasional untuk lebih memimpin pemimpin kategori bersih ketimbang pemimpin yang seagama. Pangi tak menampik tipe pemilih demikian ada, namun jumlahnya tak signifikan.
"Ini masuk pemilih sosilogis, memilih karena satu akidah," tegas Pangi.
Wakil Sekretaris Jendral PPP Achmad Baidowi mengakui Pileg 2019 merupakan pukulan telak bagi pihaknya. Ia memperkirakan setidaknya 2 juta suara PPP hilang dibandingkan tahun 2014, yakni dari suara sekitar 8 juta menjadi 6 juta. Kejadian ini tak lain karena kasus korupsi Romi.
"Musibah PPP menjadi pukulan telak terjadi sebulan sebelum pemilu. Padahal sebelumnya kami mengumumkan diri sebagai partai bagus, bersih, tidak mencalonkan koruptor. Dan itu secara tidak langsung membuat persepsi publik terpengaruh," kata dia kepada CNNIndonesia.com.
Menurutnya, kantong-kantong suara PPP yang turun drastis ada di kota besar. Misalnya, Jawa Barat yang tadinya mendapat 7 kursi kini terjun bebas hanya mendapat 3 kursi.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
"Beruntung kita memberhentikan Pak Romi sehingga terputus urusan pribadi beliau [dan PPP] membalikkan keadaan," imbuh dia.
Terpisah, Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily menyebut pihaknya melancarkan sejumlah program lewat para caleg yang masih memiliki basis yang sangat kuat di daerah.
"Partai Golkar masih punya caleg-caleg yang teruji dan mereka juga menawarkan program kepada masyarakat, jadi tidak dengan tangan kosong datang ke daerah," kata Ace kepada CNNIndonesia.com.
"Terakhir, masyarakat masih percaya dan melihat Golkar sebagai sebuah sistem yang justru Golkar mampu menghadapi persoalan dan dilalui dengan sangat baik," tutup dia.
[Gambas:Video CNN] (arh)
Mantan Ketum PPP Romahurmuziy menjadi tersangka kasus jual beli jabatan di Kemenag. (
Gedung Merah Putih KPK. (CNN
Foto: CNN Indonesia/Fajrian