Ayah Harun Sebut Anaknya Tewas di Gorong-gorong Kawasan Slipi

CNN Indonesia | Senin, 27/05/2019 16:41 WIB
Ayah Harun Sebut Anaknya Tewas di Gorong-gorong Kawasan Slipi Didin Wahyudin, ayah Harun Al Rasyid korban tewas peristiwa 22 Mei. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Letjen (Purn) DJ Nachrowi beserta sejumlah purnawirawan lainnya melayat keluarga korban tewas akibat kerusuhan 22 Mei 2019, M Harun Al Rasyid (15) di kawasan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dalam lawatannya para purnawirawan ini berbicara dengan keluarga almarhum mengenai kronologi kematian Harun.

Suasana haru di dalam rumah keluarga Harun masih terasa. Kakak perempuan Harun pun masih depresi akibat kematian adiknya.

Ayah Harun, Didin Wahyudin mengatakan anaknya saat itu tengah bermain layang-layang. Ketika itu ibunya memberi uang Rp5 ribu untuk membeli layang-layang, lantas mereka tidak tahu-menahu lagi mengenai keberadaan anaknya.


Didin menduga kematian anak keduanya itu sebagai upaya pembunuhan. Hal itu, menurut dia, karena ada peluru pada tubuh anak laki satu-satunya itu.

"Bagaimana bukan pembunuhan? Peluru dari kiri tembus ke jantung. Dan baru tahu tadi saya, katanya bukan tergeletak di jalan, tapi di gorong-gorong. Ketemunya di daerah Slipi," kata Didin di Kebon Jeruk, Senin (27/5), emosional saat menceritakan kematian puteranya.

Berbekal informasi dari tim relawan, Harun yang dibawa ke RS Polri langsung disusul oleh pihak keluarga. Didin menyayangkan sikap RS Polri yang tidak terbuka.

Dalam pertemuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) siang ini, Didin sempat menyampaikan keluh kesahnya. Dia mempertanyakan kerumitan hasil autopsi Harun yang tidak ia terima, bahkan sampai saat ini.

Didin mengaku melihat jenazah anaknya dalam kondisi yang telah dibungkus kain kafan dan tinggal disalatkan.

"Saya mempertanyakan kenapa hasil autopsi tidak diminta, apa memang tidak dikasih," kata Didin di DPR, Senin (27/5).

"Pak Anies, camat, lurah, sudah datang ke kami. Saya hanya minta doa dan dukungannya saja, termasuk dari bapak-bapak (purnawirawan) sekalian," ujar Didin.

Bagi Nachrowi dan kawan-kawan, kunjungan ke rumah keluarga korban tewas peristiwa 22 Mei bukan yang pertama. Sebelumnya mereka juga telah mengunjungi Reyhan (15) dan Widianto Rizki Ramadan (17). Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI total ada delapan korban tewas dalam kerusuhan 22 Mei.

Lawatan ke rumah keluarga Harun ini sedianya dipimpin oleh Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, namun dirinya berhalangan hadir karena suatu alasan yang tidak dijelaskan.

Selain berbicara dengan keluarga korban, para purnawirawan dalam lawatannya turut memberikan santunan sosial kepada keluarga almarhum.

"Bahwa dukungan kita memberikan dukungan moral, jangan sampai tenggelam dengan suasana kesedihan. Kalau ada langkah-langkah, kita negara hukum, tentu semua akan mendukung," ujar Nachrowi usai lawatan.

Sementara itu, RS Polri membantah pihaknya telah mempersulit keluarga Harun. Kepala Rumah Sakit Polri Brigjen Pol Musyafak menuturkan, jenazah Harun saat tiba di RS Polri tidak dikenali identitasnya. Oleh karena itu, kata dia, harus melewati proses antemortem terlebih dahulu.

Dia menambahkan, pihaknya tidak ingin mengambil risiko dengan gegabah menyerahkan jenazah kepada pihak lain.

"Bukan mempersulit. Begini, waktu jenazah diantar ke RS Polri, itu kan Mr X (tanpa identitas). Kita tidak mungkin gegabah atau serta merta menyerahkan jenazah ke orang lain. Ada prosesnya, yakni antemortem. Jikalau kemudian cocok, kita serahkan. Enggak ada kok kata mempersulit itu; hanya harus melalui proses saja," kata Musyafak kepada CNNIndonesia.com.
[Gambas:Video CNN] (ryn/wis)