Malam Mencekam di Asrama Brimob Petamburan saat Rusuh 22 Mei

CNN Indonesia | Selasa, 28/05/2019 06:13 WIB
Ajun Komisaris Ibrahim Sadjab bersama pasukannya kalah jumlah menghadapi ratusan perusuh yang menyerang Mako Brimob Petamburan, 22 Mei lalu. AKP Ibrahim Sadjab masih terbaring akibat luka yang dialami ketika mengamankan Mako Brimob Petamburan, Jakarta, 22 Mei lalu. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ajun Komisaris Ibrahim Sadjab masih terbaring di kamar nomor 402 Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (27/5). Dia adalah salah satu anggota Brimob yang terluka saat melaksanakan tugas menghalau massa perusuh pada 22 Mei lalu.

Hari ini Ibrahim dijenguk oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo. Gips yang dibalut perban putih masih melekat di tangan kanan Ibrahim. 

Luka di tangan kanannya didapat saat mengamankan Asrama Brimob Petamburan, Slipi, Jakarta Barat, yang jadi sasaran amuk massa saat kerusuhan pecah di sejumlah titik di Jakarta, 22 Mei lalu.


Ibrahim menceritakan kronologi kejadian kepada Dedi yang datang didampingi Kepala Rumah Sakit Polri Brigjen Musyafak.

Pada 22 Mei Ibrahim tak masuk dalam anggota yang mengamankan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Dia pun bersiap di Polda Metro Jaya jika sewaktu-waktu dibutuhkan pengamanan tambahan.

"Sekitar jam 02.00 WIB, karena standby di kantor, di-bangunin sama piket 'Izin Komandan Markas diserang'," kata Ibrahim.

Kondisi keamanan di Jakarta pada 22 Mei memang tidak menentu. Polisi sebelumnya telah menetapkan status siaga 1 untuk keamanan ibu kota. Ketegangan antara massa dan polisi di lokasi unjuk rasa di depan Gedung Bawaslu, kerap terjadi.

Setelah mendengar Asrama Brimob diserang Ibrahim mengaku langsung bersiap secepat mungkin.

Setiba di lokasi Ibrahim sempat mengira yang terjadi sebenarnya adalah tawuran antarwarga. Namun dia heran mengapa justru Markas Brimob yang diserang.
Malam Mencekam di Asrama Brimob Petamburan saat Rusuh 22 MeiSejumlah kendaraan di Asrama Brimob, Petamburan terbakar saat kerusuhan 22 Mei. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

"Kami lari sampai di depan itu, depan pinggir jalan saya kira tawuran tapi arahnya nyerang ke asrama. Kami bertahan di situ. Kami sisir, dorong massa sebelah Tanah Abang ke kiri, sebelah Slipi diserang juga," tuturnya.

Ibrahim menduga massa saat itu berjumlah ratusan. Jumlahnya sangat jomplang dengan petugas keamanan yang ditaksir Ibrahim hanya 50-60 orang. Kalah jumlah, Ibrahim mengaku kewalahan untuk mengurai massa.

Kewalahan menghalau massa membuat Ibrahim melepaskan tembakan peringatan. Tapi massa tidak bubar. Saat itu juga Ibrahim mengatakan diperintah untuk tidak menggunakan senjata api dan peluru tajam.

"Tidak ada peluru tajam," tuturnya.

Sekitar pukul 04.00 WIB, Ibrahim mengatakan pihaknya mengontak HT Garda 00 untuk meminta bantuan pengurai massa dari arah Slipi.

Berkat bantuan itu Ibrahim dan kawan-kawan berhasil mendorong massa di Tanah Abang mundur sampai Pelni. Namun upaya memukul mundur massa tak berjalan lancar.
Malam Mencekam di Asrama Brimob Petamburan saat Rusuh 22 MeiPetugas berusaha mengurai massa yang menyerang Asrama Brimob di Petamburan, Slipi. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pras)

Di tengah upaya memukul mundur massa, Ibrahim mengaku terkendala dengan amunisi gas air mata yang menipis. Jumlahnya tinggal dua peluru. Sementara hari telah beranjak petang.

Dalam situasi sulit itu datang Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Gatot Eddy sekitar pukul 05.30 WIB.

Kata Ibrahim, di lokasi Gatot memerintahkan pasukan untuk tidak ada lagi menembak. Ibrahim bersama pasukannya lantas bertahan dengan tembakan gas air mata.

"Salah satu pasukan bilang 'Izin komandan amunisi sisa dua, bertahan?' Sudah Bertahan saja gimana caranya, bertahan," ucapnya.

Keadaan saat itu cukup genting. Ibrahim berkata massa yang sempat dipecah berhasil berkumpul lagi. 

"Sudah ada provokator di depan bilang maju, serang, maju, serang," ujarnya.

Jatuh hingga Dihujani Batu

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2