Semangat Warga Sigi Berlebaran di Tenda Pengungsian

CNN Indonesia | Kamis, 06/06/2019 04:40 WIB
Semangat Warga Sigi Berlebaran di Tenda Pengungsian Foto: ANTARA FOTO/Basri Marzuki
Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang hari raya idul fitri, sebagian kawasan di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), dilanda musibah banjir bandang.

Akibat musibah itu, banyak permukiman yang terkubur lumpur sehingga memaksa para warga untuk menyelamatkan diri ke tenda-tenda pengungsian. Bahkan ada yang harus menjalani idul fitri di tempat pengungsian.

"Meski dalam kondisi atau suasana yang begini, kami tetap semangat merayakan Lebaran bersama keluarga dan sahabat di lokasi pengungsi," kata Mirna, seorang warga Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, seperti yang dikutip dari Antara, Rabu (5/6).


Ibu rumah tangga itu menuturkan rumah yang berada di dekat daerah aliran sungai (das), sudah hanyut diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu.



Kini ia bersama suami dan anak-anak serta cucu terpaksa tinggal sementara di tenda pengungsi yang disediakan oleh pihak-pihak lembaga kemanusiaan yang peduli bencana alam.

Menurutnya ini merupakan hal yang baru pertama kali mereka alami tinggal dan merayakan Idul Fitri di tenda. Namun musibah ini sama sekali tidak mengurangi makna dari Lebaran itu sendiri.



"Yang terpenting baginya adalah tetap tabah menghadapi semua cobaan dari Tuhan," kata dia.

Hal senada juga disampaikan Ririn, salah seorang korban banjir bandang di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan.

"Kami bersyukur masih bisa merayakan Lebaran, meski di lokasi pengungsian," katanya.

Menurutnya yang paling disyukuri adalah saat bencana alam banjir bandang mengoyak permukiman penduduk di Desa Bangga, ia dan suami serta anak-anak selamat dari musibah alam tersebut.



Meskipun, ia melanjutkan, rumah dan harta bendanya terkubur lumpur.

Ia masih belum ada gambaran tentang berapa lama, ia bersama warga lainnya tinggal di lokasi pengungsian.

Ririn hanya berharap mendapat bantuan bahan makanan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya dari pemerintah dan para relawan.

"Terus terang kami sekarang ini hanya bisa hidup bertahan dari bantuan-bantuan yang disalurkan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan swasta serta organisasi masyarakat dan agama," ujarnya.

[Gambas:Video CNN] (ANTARA/agr)