Kritik tersebut dilontarkan peneliti Indonesia Budget Center (IBC) Ibeth Koesrini. Dia mengatakan bahwa mudik urusan pribadi masing-masing orang sehingga dana tidak perlu difasilitasi khusus oleh pemerintah.
"Sumber dananya pun bisa tidak diambil dari APBD," kata Ibeth saat dihubungi, Senin (10/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut anggaran tersebut termasuk biaya keberangkatan dan pulang para peserta mudik gratis.
Selain menyewa bus, anggaran juga digunakan untuk menyewa 62 truk pengangkut motor, serta membayar pajak serta pelaksanaan acara.
"Banyak hal lain yang lebih mendesak. Perkembangan LRT belum beres, tidak sesuai dengan ketepatan waktu," ujarnya.
"Lalu target penerimaannya bagaimana? Setelah mengeluarkan Rp14 miliar, apakah ada penerimaan? Alasan gubernur, ini adalah bentuk apresiasi warga DKI yang sudah membayar pajak dan meningkatkan perekonomian. (Tapi) Ini tidak hanya untuk orang yang mudik. Ini menggambarkan bahwa rencana program tersebut tidak transparan dipublikasikan di media resmi pemerintah, melalui website Pemprov DKI. Itu enggak muncul," ujarnya.
"Bukan pemborosan. Kalau pemborosan itu tidak ada manfaat dan gunanya. Kan ini jelas manfaat dan gunanya," kata Suhaimi.
Suhaimi juga mengatakan dana ini diambil dari APBD karena merupakan salah satu bentuk bantuan yang diberikan kepada warga Jakarta.
"Kalau kita melihat itu adalah APBD dari masyarakat dan dikembalikan kepada masyarakat, salah satu bentuknya adalah bantuan untuk setahun sekali untuk mudik. Itu pertimbangannya," ujar Suhaimi.