Baginya, jauh lebih penting agar Jokowi dan Prabowo beserta politisi lainnya mendorong agar kritik dan narasi yang beredar di masyarakat tidak lagi bernuansa negatif. Kritik harus dilontarkan demi kemajuan bangsa secara keseluruhan. Tidak seperti yang berseliweran di khalayak selama ini.
"Jadi apapun yang terjadi harus diterima dengan lapang dada. Kritik-kritik politik harus bersifat substansial. Jangan ada lagi fitnah-fitnah seperti PKI, Cina, dan lain-lain," kata Adi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Sandiaga: Kami Sangat Percaya MK |
Misalnya, aksi massa di depan Bawaslu RI, di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 21-22 Mei. Aksi yang semula berlangsung damai pada siang hingga petang hari itu berubah jadi kerusuhan pada malam hari. Kerusuhan pun terjadi hingga keesokan harinya dan menyebar ke daerah sekitar Bawaslu karena polisi berusaha meredam keributan massa.
Polisi berusaha meredam massa yang rusuh di Jalan MH Thamrin, seberang Gedung Bawaslu RI, Jakarta Pusat, 22 Mei 2019. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Arie pun mengingatkan kembali bahwa putusan MK adalah hasil final yang harus dipatuhi, dan tidak bisa digugat lagi. Hal tersebut, kata dia, pastilah akan masuk ke dalam perhitungan politis bagi semua pihak yang terlibat dalam kontestasi pemilu ini.
Lebih lanjut, Arie mengatakan sembilan hakim konstitusi yang akan menangani perkara PHPU Pilpres 2019 itu pun patut dinanti integritasnya. Para hakim, kata Arie, tentunya akan bertaruh untuk menangani perkara tersebut seadil-adilnya tanpa terpengaruh tekanan dari pihak mana pun.
(bmw/kid)
Polisi berusaha meredam massa yang rusuh di Jalan MH Thamrin, seberang Gedung Bawaslu RI, Jakarta Pusat, 22 Mei 2019. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Mahkamah Konstitusi ditargetkan undang-undang memberikan putusan atas PHPU Pilpres maksimal 14 hari kerja pascapermohonan dicatat dalam BRPK. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Dua capres yang bersaing dalam Pilpres 2019 Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto pada Pilpres 2014 pun berkompetisi untuk jabatan yang sama. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)