Dishub DKI Kaji Dampak Ganjil Genap Seharian

CNN Indonesia | Jumat, 12/07/2019 17:01 WIB
Dishub DKI Kaji Dampak Ganjil Genap Seharian Ilustrasi ganjil genap. (CNN Indonesia TV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dinas Perhubungan DKI Jakarta sudah menerima usulan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) untuk penerapan ganjil genap sepanjang hari.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan sedang mengkaji usulan ini dari sejumlah aspek, salah satunya ekonomi.

"Kita akan lakukan kajian kembali secara komperhensif, apakah itu aspek ekonomi, sosial dan lain-lain. Itu harus masuk ke dalam kajian menyeluruh," kata Syafrin saat dihubungi, Jumat (12/7).


Syafrin mengakui ada penurunan kemacetan setidaknya hingga 30 persen dalam penerapan ganjil genap saat Asian Games 2019 berlangsung. Namun, Syafrin menegaskan penerapan kebijakan jangka panjang tak hanya sekadar dari persoalan kepadatan lalu-lintas saja.

"Tapi bagaimana aspek ekonomi pertumbuhan, sosial seperti apa, bagaimana pengaruh terhadap daily activity terhadap masyarakat. Ini dinilai keseluruhan," jelas dia.

Sejauh ini, Dishub, kata Syafrin juga sedang melakukan evaluasi per tiga bulan terhadap penerapan ganjil genap. Setelahnya, Dishub akan mencoba menyampaikan hasilnya kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Setelah pelajari semuanya langkah selanjutnya sesuai amanah Pak Gub (Anies Baswedan), kita harus lakukan akselerasi sesuai dengan janji beliau yang sudah dituangkan dalam RPJMD," ujar dia.

Kendati begitu, Syafrin menyatakan belum menerima lampiran lengkap terkait usulan BPTJ tersebut. Sembari menunggu, Dishub akan melakikan evaluasi tiga bulanan tersebut.

"Kami belum terima lampiran, baru surat. lampiran kajian belum disampaikan itu kami sedang kami mintakan, nanti kita pelajari apakah komperhensif," tutup dia.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan Bambang Prihartono meminta Anies untuk mengkaji kembali penerapan ganjil genap agar dapat dilakukan sepanjang hari.

Setidaknya, ada dua alasan Bambang mengusulkan ini, yakni pertama soal kemacetan di Ibu Kota dan kedua baru-baru ini mengenai polusi udara yang menyelimuti Ibu Kota.

"Kemudian yang berikutnya adalah kita juga menjadi kota terjelek di dunia dengan polusi nomor 2 dunia terburuk. Nah oleh karena itu apa solusi kita, Kita harus mencari solusi terbaiknya," kata Bambang.

[Gambas:Video CNN] (CTR/arh)