Dalam tabel yang berjudul 'Potensi Pemenuhan Kebutuhan Air Baku' tercatat bahwa distribusi air di Ibu Kota masih berada di angka 11.179 liter per detik pada tahun 2018. Padahal dalam tabel tersebut kebutuhan air di tahun yang sama adalah sebesar 19.680 liter per detik.
Sementara di tahun 2019, distribusi air diprediksi mencapai angka sekitar 12.000 liter per detik dengan kebutuhan seharusnya dipenuhi adalah sekitar 20.000 liter per detik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menambah pasokan itu, DKI berencana untuk menambah potensi air dari embung dan waduk. Sebab selama ini potensi air Jakarta masih bergantung dari waduk Jatiluhur dan Citarum.
Selain itu, DKI juga masih bernegoisasi dengan pihak swasta mengenai pengambilalihan pengelolaan air. Namun Anies tak menjelaskan secara detail perkembangan proses ambil alih tersebut.
Yang jelas, kata dia, terakhir proses ambil alih masih dalam tahap negosiasi dengan pihak swasta. "Hingga kini negosiasi masih berjalan. Kita berharap cepat rampung," tutup Anies.
Diketahui, Anies pernah mengaku sedang mencari celah hukum yang bisa dikenakan untuk memberikan sikap tegas kepada Palyja sebagai pihak swasta penyedia air Jakarta. Palyja saat itu disebut Anies tidak kooperatif dalam proses negosiasi.
DKI dan PAM Jaya sebagai BUMD pengelola air sedang melakukan renegosiasi untuk pengambil alihan pengelolaan air.
Sejauh ini Aetra sudah bersedia untuk negosiasi ulang dengan DKI, sementara Palyja masih belum memberikan respons.
[Gambas:Video CNN] (ctr/osc)