Anies Sebut Pemenuhan Kebutuhan Air Ibu Kota Jauh dari Target

CNN Indonesia | Rabu, 24/07/2019 02:45 WIB
Gubernur DKI Anies Baswedan menyebut pemenuhan kebutuhan air di Ibu Kota pada 2019 baru 12.000 liter per detik, sementara targetnya 20.000 liter per detik. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemenuhan kebutuhan air baku Ibu Kota masih sangat jauh dari target. Hal itu terlihat dari gambaran potensi kebutuhan pemenuhan air baku yang dipresentasikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat menjadi pembicara di Kantor CNBC, Jakarta, Selasa (23/7).

Dalam tabel yang berjudul 'Potensi Pemenuhan Kebutuhan Air Baku' tercatat bahwa distribusi air di Ibu Kota masih berada di angka 11.179 liter per detik pada tahun 2018. Padahal dalam tabel tersebut kebutuhan air di tahun yang sama adalah sebesar 19.680 liter per detik.

Sementara di tahun 2019, distribusi air diprediksi mencapai angka sekitar 12.000 liter per detik dengan kebutuhan seharusnya dipenuhi adalah sekitar 20.000 liter per detik.


Dari daftar tabel itu pula Anies menyebut bahwa kebutuhan air Ibu Kota baru akan terpenuhi sekitar tahun 2030. Saat itu diprediksi kebutuhan air sekitar 23.485 liter per detik dengan distribusi air yang sudah mencapai 23.867 liter per detik.


Untuk menambah pasokan itu, DKI berencana untuk menambah potensi air dari embung dan waduk. Sebab selama ini potensi air Jakarta masih bergantung dari waduk Jatiluhur dan Citarum.

"Sejauh ini baru ada 68 waduk yang eksisting. Insya Allah kita akan terus bangun dan ada sekitar 14 potensi waduk yang berpotensi dikembangkan," kata Anies di Kantor CNBC Jakarta.

Selain itu, DKI juga masih bernegoisasi dengan pihak swasta mengenai pengambilalihan pengelolaan air. Namun Anies tak menjelaskan secara detail perkembangan proses ambil alih tersebut.

Yang jelas, kata dia, terakhir proses ambil alih masih dalam tahap negosiasi dengan pihak swasta. "Hingga kini negosiasi masih berjalan. Kita berharap cepat rampung," tutup Anies.


Diketahui, Anies pernah mengaku sedang mencari celah hukum yang bisa dikenakan untuk memberikan sikap tegas kepada Palyja sebagai pihak swasta penyedia air Jakarta. Palyja saat itu disebut Anies tidak kooperatif dalam proses negosiasi.

DKI dan PAM Jaya sebagai BUMD pengelola air sedang melakukan renegosiasi untuk pengambil alihan pengelolaan air.

Sejauh ini Aetra sudah bersedia untuk negosiasi ulang dengan DKI, sementara Palyja masih belum memberikan respons.

[Gambas:Video CNN] (ctr/osc)