Solusi Risma Atasi Sampah DKI: Kelola Sampah di Tengah Kota

CNN Indonesia | Rabu, 31/07/2019 19:20 WIB
Solusi Risma Atasi Sampah DKI: Kelola Sampah di Tengah Kota Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini alias Risma menyarankan pemerintah provinsi DKI Jakarta membangun tempat pengolahan sampah yang terpusat di tengah kota untuk menggantikan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat.

Risma mengaku prihatin dengan kondisi TPST Bantargebang yang diprediksi akan tutup pada 2021 karena volume sampah yang terus membludak.

"DKI itu kan punya uang, bisa buat tempat pengolahan sampah di tengah kota. Kalau teknologinya benar, ndak bau itu. Di negara maju juga (tempatnya) di tengah kota itu ndak apa-apa," ujar Risma saat ditemui di gedung Trans Media, Jakarta, Rabu (31/7).


Risma menuturkan Pemprov DKI tak membutuhkan lahan luas untuk membangun tempat pengolahan sampah tersebut. Dengan estimasi volume sampah 2.000 ton per hari, maka lahan yang dibutuhkan adalah sekitar dua hektar.

"Enggak gede kok. Nanti sampah itu masuk kemudian ditutup, dibuang, langsung teknologinya mengolah. Jadi itu kayak gedung tertutup dan bertingkat sehingga bisa dilihat dari atas," katanya.
Solusi Risma Atasi Sampah JakartaTempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)

Pembangunan tempat pengolahan sampah itu diprediksi akan memakan biaya Rp4 triliun. Menurut Risma, Pemprov DKI dapat memanfaatkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) yang mencapai Rp17 triliun untuk membiayai pembangunan tempat tersebut.

"Wong, DKI tuh SILPA-nya Rp17 triliun. Kalau dipakai Rp4 triliun, bangun satu lagi cuma butuh Rp8 triliun," ucap Risma.

Keberadaan tempat pengolahan sampah di tengah kota itu diyakini Risma mampu mengangkut 2.000 ton sampah per hari. Jika pemprov DKI memiliki dua hingga tiga tempat pengolahan maka akan ada sekitar 6.000 ton sampah per hari yang berhasil diangkut.

Sementara saat ini beban TPST Bantargebang dinilai Risma sudah terlalu berat karena volume sampah yang diangkut per hari mencapai 7.500 ton.

"Ini tuh sudah mendesak sekali. Sampahnya Bantargebang itu sehari 7.500 ton. Kalau itu maju (bangun tempat olah sampah) berarti tinggal 5.000 ton per hari, kalau enggak maju, yo mengerikan itu, Pak. Itu sehari, lho, bayangkan kalau enggak terangkut. Seminggu aja, jadi apa," tuturnya.
Solusi Risma Atasi Sampah JakartaAnies Baswedan saat meresmikan fasilitas pencucian truk sampah. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)

Risma menegaskan bahwa permasalahan sampah saat ini menjadi persoalan utama bagi Pemprov DKI. Jika tidak diolah dengan baik, Wali Kota Surabaya dua periode ini khawatir persoalan tersebut akan berimbas pada warga Jakarta.

"Yang utama sekarang di Jakarta itu sampah, bukan energi karena dampaknya penyakit, banjir. Kalau enggak diolah dengan benar, bahaya," ucap Risma.

Pemprov DKI sendiri berencana membangun empat tempat pengelolaan sampah di ibu kota atau intermediate treatment facility (ITF). 

Dari rencana empat ITF itu Pemprov DKI baru membangun satu di Sunter, Jakarta Utara. Tiga lainnya rencananya dibangun di Cilincing, Jakarta Utara; Rawa Buaya, Jakarta Barat; dan wilayah Jakarta Selatan.

Pemprov DKI menargetkan empat IFT itu rampung dibangun 2022.
[Gambas:Video CNN] (psp/wis)