Sebelumnya, Pemerintah Kota Semarang berencana menutup lokalisasi itu dengan memberikan tali asih sebagai kompensasi kepada para PSK. Diharapkan, tali asih itu dapat digunakan oleh para PSK untuk modal usaha.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yah, dikatakan terpaksa, ya terpaksa, Pak. Siapa yang mau jadi gini, jual diri? Tapi mau gimana lagi, anak saya masih kecil, butuh susu dan biaya sekolah. Saya juga bantu kebutuhan orang tua juga," kata dia.
Lokaslisasi Sunan Kuning, Jalan Sri Kuncoro, Kalibanteng, Semarang. (CNN Indonesia/Damar) |
Penutupan lokalisasi ini pun, menurut LSM tersebut, juga akan berdampak pada warga yang membuka usaha di sekitar lokalisasi seperti warung makan, kedai minum, hingga karaoke.
"Jangan sampai Pemerintah menutup tanpa beri solusi. Mereka (PSK) ini butuh hidup, butuh nafkahi keluarga. Ibaratnya, hukum Tuhan pun terpaksa mereka langgar untuk urusan perut. Kita selesaikan secara tuntas, beri mereka ini pelatihan dan ketrampilan karena dampaknya tidak hanya PSK, tapi juga warga lain yang buka usaha," kata Ketua Lentera Asa Ari Istiyadi.
"Kita harus mulai memperbaiki pola pikir, mau sampai kapan harus mengais rejeki, cari nafkah dari jual diri atau prostitusi. Pastinya kita semua ingin bekerja yang lebih baik," kata Hendrar.
Hendrar pun memahami bila ada ketidaksiapan atau kebingungan dari para PSK begitu lokalisasi ditutup. Namun, pihaknya yakin keputusan itu baik untuk rakyat.
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) |
Oleh Pemkot Semarang, kawasan lokalisasi Sunan Kuning akan dijadikan Kampung Tematik yakni Kampung Kuliner sehingga menjadi obyek wisata baru.
Lokalisasi Sunan Kuning sudah ada sejak 1966. Mulai 2009, nama lokalisasi itu berubah menjadi Resosialisasi Sunan Kuning seiring program dan komitmen para PSK untuk lepas dari prostitusi dan bekerja lebih baik.
[Gambas:Video CNN] (dmr/arh)
Lokaslisasi Sunan Kuning, Jalan Sri Kuncoro, Kalibanteng, Semarang. (
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (