Asisten peneliti Lokataru, Muhammad Elfiansyah Alaydrus mengatakan Komnas HAM harus mencari tahu siapa oknum yang melakukan tindakan tersebut.
"Kami harap Komnas HAM membentuk suatu tim untuk menyelidiki siapa pelaku tindakan rasisme," ujar Elfiansyah di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (20/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pikiran negara itu bukan sekedar maaf-maafan, pasti kita memaafkan sesama manusia. Tetapi proses tindak pidana tetap berlangsung," ujarnya.
Terkait dengan hal itu, Elfiansyah mengimbau aparat Kepolisian untuk mematuhi peraturan perundang-undangan dan berorientasi pada HAM, serta mengedepankan azas praduga tidak bersalah.
"Agar Kepolisian melakukan proses hukum terhadap oknum TNI, aparat kepolisian, dan ormas reaksioner yang telah melakukan tindakan perusakan dan rasisme terhadap mahasiswa Papua," ujar Elfiansyah.
"Jangan hanya karena kami punya kekayaan alam yang di sana yang berlimpah-limpah itu diambil keluar dari pada kami punya daerah terus kami orang-orangnya itu dianggap seperti binatang," ujar Yerangga.
"Jadi yang dihargai cuma kekayaan alamnya kami. Sedangkan kami orang-orang yang ada di Papua sana dihargai tidak lebih dari binatang," ujarnya.
Yerangga menganggap tindakan pemerintah melalui aparat untuk menyelidiki pelaku penyebaran video berisi konten rasisme di medsos bukan hal yang tepat. Ia menyebut tindakan itu tidak akan menyelesaikan kerusuhan yang terjadi di beberapa wilayah Papua saat ini.
"Yang sebar video itu dia hanya bantu menyampaikan informasi bahwa ada bahasa seperti ini. Kalau dia tidak sebarkan, kita tidak tahu bahwa selama ini kita itu dianggap seperti binatang," ujar Yerangga.
Itu semua merupakan buntut dari kejadian di Surabaya, Jawa Timur pada Jumat sebelumnya (16/8).
Asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya dikepung oleh massa dari berbagai elemen. Mereka juga diteriaki dengan pernyataan-pernyataan rasis. Asrama dikepung lantaran beredar video perusakan bendera merah putih oleh mahasiswa Papua.
Aparat lalu menembakkan gas air mata ke dalam asrama lantaran mahasiswa tidak kunjung keluar untuk menyerahkan diri. Puluhan mahasiswa lalu diamankan untuk diperiksa. Mereka kini sudah dipulangkan kembali.
[Gambas:Video CNN] (bmw/jps/sur)