Satu Limbah Pertamina Sejuta Derita

CNN Indonesia | Senin, 02/09/2019 13:19 WIB
Gunawan (29), nelayan di Desa Pusala Jaya Timur, Karawang Utara, merasa sakit perut dan mual serta diare setelah tiga kali ikut mengambil limbah laut. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Karawang, CNN Indonesia -- Sejak kebocoran minyak di blok Offshore North West Java (ONWJ) pada 12 Juli lalu, tidak sedikit warga di pedesaan pesisir Karawang, Jawa Barat yang terdampak kesehatannya.

Banyak faktor yang memengaruhi kesehatan baik warga yang tinggal di sekitar pesisir, maupun mereka yang sekarang bekerja mengambil limbah di laut dan pantai. Mulai dari bau minyak yang menyengat, serta air laut dan pasir pantai yang tercemar kebocoran minyak dari anak perusahaan PT Pertamina tersebut pada 12 Juli lalu.

Dokter di UPTD Puskesmas Desa Sungai Buntu, Yan Benni Irawan mengatakan pihaknya sudah beberapa kali menangani dan mendapat laporan terkait pasien yang merasakan keluhan karena aroma limbah minyak yang membuat dada pasien sesak.


"Di situ kan banyak tempat makan, ada yang tinggal juga di sana. Juga karena baunya menyengat banget nah mulai terasa sesak. Di nafas mereka terasa panas di dada," ujar Benni saat CNNIndonesia.com berkunjung ke kantornya, Rabu (21/8).

Benni menerangkan gangguan pernapasan kerap dialami warga yang tidak bersentuhan langsung dengan limbah, namun terdampak aromanya.

Diagnosanya adalah iritasi saluran pernapasan hingga peradangan. Benni menerangkan andai peradangan terus terjadi, bukan tidak mungkin infeksi saluran pernapasan juga bisa membahayakan masyarakat.

"Ya kalau peradangan terus bisa infeksi, bisa ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)," katanya.
Posko Kesehatan Pertamina di Kantor Desa Cemarajaya. Karawang.Posko Kesehatan Pertamina di Kantor Desa Cemarajaya. Karawang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Selain gangguan pernapasan, ada juga mereka yang mengeluhkan gatal-gatal di kulit. Menurut Benni justru lebih banyak laporan terkait pasien gatal-gatal dibandingkan yang mengalami sesak di dada.

"Dari tanggal 28 Juli sampai 4 Agustus kemarin yang dilaporkan sudah 17 orang. Kebanyakan memang di gatal-gatal. Sesak 6, sisanya 11 gatal-gatal," jelas Benni.

Salah satu pasien dokter Benni, Siti (25), mengaku merasa sesak di dada karena dirinya biasa berjualan di pinggir pantai Samudera Baru, Sungai Buntu. Menurutnya, hawa udara yang tercampur dengan aroma limbah minyak itu membuat dadanya sesak.

"Waktu saya rasain mah dadanya sesak, sakit, langsung bersin-bersin," kata Siti.

"Pokoknya anginnya rasanya enggak enak, langsung menyengat ke dada," sambungnya.

Kepala Desa Sungai Buntu, Asep Saepul Rahman, mengatakan Posko Kesehatan dari PT Pertamina baru dibuat di desanya pada Rabu (21/8). Pendirian posko itu, katanya, baru dibuat setelah diusulkan warga desanya. Sebelumnya, kata Asep, baru mobil-mobil ambulans dan pengecekan rutin untuk para pekerja di lapangan saja yang datang ke wilayahnya hingga Selasa (20/8).

Salah satu dokter yang bertugas di Posko Kesehatan di Desa Sungai Buntu, Nova, mengatakan rata-rata keluhan pasien adalah mengalami gangguan saluran pernapasan, iritasi, dan peradangan kulit.

"Mungkin karena debu di sini kan pengaruh iklim ya, cuaca, paling matanya kering semua, iritasi," ujar Nova di Posko Kesehatan Pertamina yang dibangun di sebelah Kantor Kepala Desa Sungai Buntu, Rabu (21/8).
Pasir yang tercemar tumpahan minyak mentah (Oil Spill) di pesisir Pantai Samudra Jaya, Karawang.Pasir yang tercemar tumpahan minyak mentah (Oil Spill) di pesisir Pantai Samudra Jaya, Karawang. Wajib mengenakan sepatu boots serta masker jika ingin mendatangi pantai di Karawang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Sedangkan untuk peradangan kulit, Nova menyebut hal itu karena pekerja mengenakan sepatu boots yang kurang aman sehingga saat kondisi kulit lembab terkena air laut dan pasir, menyebabkan peradangan.

Pada hari itu, kata Nova, setidaknya hari itu ada 47 warga dan 10 pekerja pengangkut dan ojek limbah yang menyampaikan keluhannya.

Sama halnya seperti Nova, dokter dari Rumah Sakit Pertamina yang bertugas di posko kesehatan Desa Cemara Jaya, Triandana mengaku pihaknya mencoba mengobati warga semaksimal mungkin sesuai kemampuan dan prosedur.

"Untuk sekarang ini sudah banyak teratasi, enggak terlalu banyak dampak besarnya ke masyarakat," ujar Tria.

Ia juga mengaku ada sekitar 40 warga dan pekerja yang mengeluh mengalami gangguan diduga akibat limbah minyak setiap harinya.[Gambas:Video CNN]

Sesak yang Dirasakan Warga Terdampak Limbah Minyak

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2