Hal itu diutarakan Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra di kantornya, Jakarta, Kamis (22/8).
"Sudah 12 SSK atau kurang lebih 1200 pasukan di sana dalam rangka melakukan penguatan terhadap penguatan di sana," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Kamis (22/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asep lalu menegaskan bahwa Polri tidak ingin menganggap enteng situasi keamanan di Papua Barat dan Papua. Dia memang tidak menyebut seberapa besar konflik bisa terjadi.
"Kami tidak boleh underestimate, tapi dalam kondisi overestimate. Artinya ada hal yang tidak bisa dan bisa kami prediksi, langkah yang tepat adalah dalam pemikiran menjaga (situasi di Papua)," tuturnya.
Aksi turun ke jalan lalu dilakukan. Masyarakat Manokwari, Sorong, dan Jayapura melancarkan aksi protes. Sejumlah mobil dan bangunan rusak.
Gelombang aksi protes belum sepenuhnya berhenti. Masyarakat Mimika dan Fakfak masih berunjuk rasa pada Rabu (21/8).
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengamini bahwa sejumlah aksi protes di Papua merupakan buntut peristiwa di Surabaya dan Malang, Jawa Timur. Itu diperparah oleh hoaks yang beredar di media sosial.
Sejauh ini, Polri telah menetapkan 34 tersangka dalam kerusuhan yang terjadi di Timika, Papua. Dari jumlah tersebut, 13 di antaranya diduga anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB).
"34 orang sudah kita tetapkan sebagai tersangka," Kapolres Mimika AKBP Agung Marlinato saat dikonfirmasi, Kamis (22/8).
[Gambas:Video CNN] (bmw/dis)