'Mengintip' Rumah Presiden Lewat Aksara Lintas Masa Istana

CNN Indonesia | Jumat, 23/08/2019 09:47 WIB
'Mengintip' Rumah Presiden Lewat Aksara Lintas Masa Istana (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- 'Ketika sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa Istana Kepresidenan merupakan tempat yang kaku dan terlalu banyak formalitas, namun dalam kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan... Istana adalah milik setiap orang.'

Demikian kalimat yang tertuang di halaman utama buku Pengantar Pameran Arsip Aksara Lintas Masa Istana.

Ungkapan itulah yang coba disampaikan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg) melalui Festival Indonesia Maju. Festival kali ini pun sengaja mengangkat tema Aksara Lintas Masa Istana.


"Kemensesneg memiliki kewajiban menjaga dan melestarikan serta menyebarluaskan seluruh ide dari para pemimpin kita," kata Ketua Pelaksana Festival Indonesia Maju, Sari Harjanti saat mengenalkan ruang pameran di salah satu instalasi festival, Kamis (22/8).
Festival yang digelar 22-25 Agustus 2019 di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta. Pengunjung yang ingin mampir melihat instalasi pemeran ini bisa masuk ke area GBK melalui pintu lima yang bersebrangan dengan Hotel Atlet Century.

Pameran tersebut dibuka mulai pukul 10.00-20.00 WIB saban harinya.

Pertama kali memasuki kawasan instalasi pameran, pengunjung akan disambut dengan berbagai foto dari masa ke masa pembangunan istana-istana yang menjadi tempat Presiden RI beraktivitas: Istana Negara, Istana Merdeka, hingga Istana Bogor.

Selain itu, dalam pameran ini, pengunjung pun dapat merasakan dekat karena mendapatkan kesan baru atas sisi humanis para kepala negara RI, dari mulai Presiden pertama RI Sukarno hingga Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi).

Foto-foto yang ditampilkan di instalasi pameran ini pun beragam. Dari mulai foto berwarna hingga hitam putih yang memperlihatkan sisi humanis dan gaya bekerja setiap presiden saat masih menjabat.

"Ini menjadi upaya kami untuk berikan akses informasi seluas-luasnya kepada masyarakat mengenai sisi politis, sisi humanis para presiden," kata Sari.

"Dengan melihat dan berkunjung secara langsung, masyarakat akan merasa lebih dekat dengan para pemimpin," sambungnya.

Mengintip' Rumah Presiden Lewat Aksara Lintas Masa IstanaPengunjung menikmati karya yang tersaji dalam pameran Festival Indonesia Maju di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, 22 Agustus 2019. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)


Sedikitnya dalam pameran Aksara Lintas Masa Istana ini dipamerkan 400 arsip foto, 134 arsip tekstual, dan 10 arsip film yang semuanya bebas diakses pengunjung.

Semua arsip ini juga dibagi menjadi tujuh tema: foto istana kepresidenan sejak era pemerintahan kolonial Belanda hingga saat ini, kegiatan presiden di dalam istana sejak Sukarno hingga Jokowi.

Lalu, Bakti untuk negeri yang berisi pencapaian yang diraih para presiden. Kemudian Rajutan sejarah GBK yang berisi informasi sejarah pembangunan kawasan olahraga terbagus se-Indonesia itu hingga saat ini. Juga Bandara Kemayoran yang menjadi tonggak landasan udara komersial Indonesia meski kini sudah tak beroperasi.

"Dan tak kalah penting adalah jamuan untuk kolega yang menginformasikan menu jamuan untuk para tamu negara dan hobi atau kesukaan para presiden"" kata Sari.

Semua tema yang ditampilkan ini juga disusun dengan instalasi seni hingga tak akan membosankan bagi para pengunjung muda.

"Dari segi tampilan dapat kami sampaikan bapak ibu bahwa pameran ini berbeda dari pameran sebelumnya untuk pameran kali ini lebih instagramable nanti bapak ibu bisa foto dan share di medsos bapak ibu sekalian," kata Sari.

Mengintip' Rumah Presiden Lewat Aksara Lintas Masa IstanaPengunjung menikmati karya yang tersaji dalam pameran Festival Indonesia Maju di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis, 22 Agustus 2019. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Tak hanya itu, di dalam area pameran juga dipasang replika meja makan kepresidenan yang biasa digunakan oleh presiden untuk menjamu kolega dan tamu kenegaraan.

Jamuan kenegaraan sendiri merupakan ritual rutin yang dilakukan guna menghormati tamu negara. Dalam setiap kunjungan kenegaraan, menu yang disajikan merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan masakan, budaya, dan citarasa nusantara.

Di era Sukarno saat mengadakan jamuan biasanya akan disajikan minuman 'sang saka' yang terbuat dari kombinasi kolang kaling merah dengan serutan kelapa muda yang berwarna putih. Sampai saat ini, menu jamuan yang disajikan merupakan kombinasi antara masakan asli nusantara dipadukan dengan menu negara asal tamu yang sedang dijamu.

Tempe, tahu, rendang dan kue-kue tradisional selalu disajikan dalam jamuan kenegaraan. Bahkan Jokowi mulai menghadirkan nasi sebagai menu utama dalam jamuan kenegaraan.

"Selera para presiden sedikit banyak berpengaruh terhadap menu jamuan kenegaraan. Meskipun demikian, pada dasarnya seluruh presiden memiliki selera yang sama dalam hal makanan, yaitu masakan khas nusantara," kata Sari.
Pengunjung pun saat berkunjung ke instalasi seni pameran replika meja makan kepresidenan ini bisa merasakan langsung berfoto di meja makan yang memang biasa digunakan oleh para presiden.

Sementara di luar area pameran pengunjung juga bisa menikmati Pasar Rakyat yang diikuti oleh sedikitnya 20 pedagang yang menyajikan menu makanan nusantara tradisional dan masa kini.

Tak hanya itu, pengunjung juga bisa menikmati hiburan dan atraksi seni yang ditampilkan di Panggung Rakyat yang juga berlokasi di kawasan Festival Indonesia Maju.

[Gambas:Video CNN] (tst/kid)