Polisi Keberatan Gugatan Praperadilan Istri Kivlan Zen

CNN Indonesia | Rabu, 04/09/2019 06:15 WIB
Polisi Keberatan Gugatan Praperadilan Istri Kivlan Zen Istri Kivlan Zen, Dwitularsih Sukowati saat mengajukan gugatan praperadilan kepada Kapolri Jendral Tito Karnavian di PN Jakarta Selatan, Senin (2/9). (CNN Indonesia/Aini Putri Wulandari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pihak kepolisian yang digugat oleh istri tersangka kepemilikan senjata api ilegal Kivlan Zen, Dwitularsih Sukowati menolak pengajuan gugatan praperadilan dalam eksepsi yang disampaikan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (3/9).

Dalam gugatan ini termohon Kapolri Jendral Tito Karnavian digugat karena Dwi merasa tidak pernah menerima tembusan atau pemberitahuan terkait penangkapan dan penahanan suaminya serta penyitaan mobilnya.

Dalam persidangan pemberian jawaban hari ini, kepolisian mengajukan eksepsi dan menolak gugatan praperadilan karena dua hal.


Alasan pertama karena asas Nibes in Idem. Asas itu menjelaskan bahwa permohonan praperadilan kali ini sama atau tidak bisa dipisahkan dengan permohonan praperadilan sebelumnya yang bernomor perkara 75/Pid.Pra/2019/PN.Jkt.Sel.

"Oleh karena itu terhadap kasus dan pihak yang sama tidak boleh diajukan untuk kedua kalinya," kata tim Biro Hukum Mabes Polri, Kombes Pol Flora Dakhi dalam surat jawaban dan eksepsi yang diterima CNNIndonesia.com.

Gugatan yang sama memang pernah diajukan oleh Kivlan pada Juni 2019. Saat itu Kivlan menggugat Kapolda Metyro Jaya atas penangkapan, penyitaan, penetapan tersangka, dan penahanan dirinya. Gugatan Kivlan itu ditolak oleh Hakim Tunggal Achmad Guntur di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 30 Juli lalu.

Alasan kedua dari pihak kepolisian, kata Floria, permohonan praperadilan dan surat kuasa dianggap cacat formil.

Menurutnya, kuasa hukum Dwi yakni Tonin Tachta merupakan kuasa hukum yang pernah melakukan pelanggaran kode etik oleh karena itu perkara tersebut tidak bisa dilanjutkan.

"[Tonin] sedang menjalani pemecatan sementara atau skorsing maka dengan sendirinya surat kuasa dari pemberi kuasa selaku pemohon menjadi cacat hukum," jelasnya.

Tonin menjawab eksepsi dan keberatan polisi dengan menyebut semua alasan yang disampaikan polisi itu tidak relevan.

Ia menilai asas Nibes in Idem tidak berlaku pada perkara praperadilan. Artinya dalam hal ini, gugatan praperadilan diizinkan untuk diajukan kembali.

Selain itu terkait pelanggaran kode etik yang ia alami, menurutnya masih perlu dibuktikan lebih lanjut.

"Kita lihat nanti buktinya kalau memang betul benar. Kalau enggak betul, kasihan sekali karena ini sudah dipermasalahkan juga sewaktu diadakan di praperadilan sebelumnya, maupun di Jakarta Timur, ini adalah saya bilang bohong, tapi ternyata kuasa hukumnya masih meneruskan," kata Tonin setelah sidang ditutup.

Lebih lanjut Tonin mengatakan pihaknya tidak menemukan jawaban yang sesuai terkait pertanggungjawaban pemberitahuan atau tembusan penangkapan, penahanan dan penyitaan yang Dwi gugat.

"Ini tidak ada menyatakan bahwa pemohon sudah mendapat surat, apa tembusan, mengenai penahanan penangkapan dan penyitaan. Tidak ada di sini dan tidak dibantah juga sudah terima, jadi kita bawa perkara ini mereka ngomongnya lain, gimana coba?" ungkapnya.

Oleh karena itu, Tonin mengatakan akan tetap kembali pada gugatan awal pada petitum. Pihak kepolisian pun saat ditanyai oleh Hakim Tunggal, Toto Ridarti, menjawab akan tetap berpegang teguh pada jawabannya.

Tonin mengatakan tidak membawa saksi atau ahli pada sidang pembuktian nanti. Ia mengaku hanya akan membawa bukti yang menunjukkan Dwi adalah istri Kivlan yakni Kartu Tanda Penduduk dan beberapa bukti lain yang dihimpun dari sejumlah media.

Setelah mendengar pendapat dua pihak sidang pun ditutup. Sidang lanjutan digelar esok (4/9) dengan jadwal pembuktian bagi pemohon.

"Besok pembuktian semua dari pemohon saksi maupun ahli, bawa. Hari berikutnya Kamis (5/9), pembuktian dari saudara [termohon]," kata Hakim Toto.

[Gambas:Video CNN]

(ani/wis)


BACA JUGA