Dalam pidatonya, Ilham mengatakan bahwa cara ayahnya wafat itu merupakan gambaran dari kehidupannya. Kehidupan Habibie disebutnya dipenuhi oleh cinta dari keluarga, sahabat dan rekan-rekannya.
"Bagaimana cara wafatnya bapak, itu contoh kehidupan (bapak). Bapak dikelilingi keluarga, sahabat, teman seperjuangan, teman pada umumnya, dan semua berdoa untuk bapak, " kata Ilham.
"Satu demi satu mencium pada waktu beliau mulai wafat. Dengan rasa cinta itu lah bapak meninggalkan dunia ini," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ainun menutup mata sembilan tahun lalu, pada 22 Mei 2010, usia 72 tahun. Menurut Ilham, selama sisa hidupnya, Habibie berusaha tidak pernah absen mengunjungi makam Ainun untuk berdoa setiap Jumat.
Upacara pemakaman Habibie yang berlangsung khidmat disebut Ilham merupakan hal terbaik untuk mendiang ayah dan ibunya.
Putra sulung Habibie, Ilham Akbar Habibie saat pidato di pemakaman ayahnya, Kamis (12/9). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Kemudian Ilham mengimbau masyarakat untuk mencoba belajar dari semangat Habibie yang tak mau berhenti belajar serta sifat pantang menyerah.
Ilham bercerita ayahnya pada usia 83 tahun, menderita penyakit paralel, masih mencoba memberi masukan serta nasehat dengan menghadiri sejumlah acara.
Sepenggal doa dan salam perpisahan diucapkan Ilham sebelum menutup pidatonya. Dia juga menyatakan cintanya terhadap ayah.
"Sampai jumpa di akhirat, bapak, eyang tercinta. selamat jalan dan kita mencintai papa dan eyang semuanya. Mudah-mudahan husnul khotimah. Mohon maaf atas semua yang kita buat kepada eyang. Kita cinta bapak," kata Ilham.
[Gambas:Video CNN] (ara/wis)
Putra sulung Habibie, Ilham Akbar Habibie saat pidato di pemakaman ayahnya, Kamis (12/9). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)