Sehari-harinya, para pencari suaka kerap didata petugas Satpol PP yang berjaga. Petugas mengecek kartu identitas yang terdapat logo UNHCR. Ali, salah satu pencari suaka yang didata hari itu.
Ali mengatakan pendataan itu biasa dilakukan, meskipun ia tidak tahu tujuan pemeriksaan kartu identitas tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ali, uang yang didapat dari UHNCR tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan. Itu yang menjadi alasan bagi sebagian pencari suaka menempati trotoar di sekitar daerah Kebon Sirih. Meski keadaannya sama saja, luntang-lantung tanpa kepastian.
"Kami cari kos kemarin yang paling murah itu sekitar Rp500-700ribu. Sisanya enggak cukup buat beli makanan, apalagi kalau kita sakit. Pasti enggak akan cukup," tambahnya.
Pencari Suaka di trotoar Kebon Sirih, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/ Michael Josua Stefanus). |
"Kami kan tidak boleh bekerja, jadi mau tidak mau hanya menunggu," ujarnya.
Kehidupannya di atas trotoar memang tak menentu. Selain kerap didata, para pencari suaka juga sering mendapat teguran dari Satpol PP karena keberadaan mereka menghalangi pejalan kaki di pedestrian, khususnya lajur untuk difabel berwarna kuning.
Lihat juga:Pencari Suaka Kembali ke Trotoar Kebon Sirih |
Pencari suaka lainnya, Mirza Hussain Sherzed (24) mengatakan mereka belum mendapat kepastian dari UNHCR. Ia bahkan mendesak Komisioner Tinggi PBB terkait pengungsi itu melakukan sesuatu yang lebih berdampak bagi mereka.
"Mereka meminta kami untuk menunggu, tapi sampai kapan? Saya masih umur 24 tahun, harus melanjutkan hidup saya untuk pendidikan, dan lainnya," kata Sherzed.
Ia tidak bisa berharap banyak karena memahami situasinya berada di negara lain. Menurutnya, yang dibutuhkan oleh para pencari suaka saat ini adalah bantuan untuk sekadar makan dan tempat tinggal.
[Gambas:Video CNN] (mjo/osc)
Pencari Suaka di trotoar Kebon Sirih, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/ Michael Josua Stefanus).