Pencari Suaka, Terusir Lalu 'Menggelandang' di Kebon Sirih

CNN Indonesia | Rabu, 18/09/2019 10:12 WIB
Pencari Suaka, Terusir Lalu 'Menggelandang' di Kebon Sirih Pencari Suaka di trotoar Kebon Sirih, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/Daniela).
Jakarta, CNN Indonesia -- Puluhan pencari suaka masih menempati trotoar di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, hingga Selasa (17/9). Sekitar 30 hingga 40 warga negara asing dari Afganistan, Somalia, Irak, dan Sudan tinggal di trotoar sana. Mereka yang sebelumnya tinggal di gedung eks Kodim di Kalideres, Jakarta Barat, kini kembali ke Kebon Sirih.

Sehari-harinya, para pencari suaka kerap didata petugas Satpol PP yang berjaga. Petugas mengecek kartu identitas yang terdapat logo UNHCR. Ali, salah satu pencari suaka yang didata hari itu.

Ali mengatakan pendataan itu biasa dilakukan, meskipun ia tidak tahu tujuan pemeriksaan kartu identitas tersebut.


Ali bersama para pencari suaka lainnya kembali ke Kebon Sirih setelah sekian waktu menempati tempat pengungsian di Kalideres. Namun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghentikan bantuan dalam bentuk pemberian air, listrik dan makanan sejak Sabtu (31/8) lalu. Mereka pun 'terusir' dari Kalideres.
Kendati demikian, UNHCR telah memberikan sejumlah bantuan berupa uang tunai yang dapat digunakan para pencari suaka untuk mencari tempat tinggal baru, yaitu kos atau sewa rumah.

Menurut Ali, uang yang didapat dari UHNCR tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan. Itu yang menjadi alasan bagi sebagian pencari suaka menempati trotoar di sekitar daerah Kebon Sirih. Meski keadaannya sama saja, luntang-lantung tanpa kepastian.

"Uang dari UNHCR kan kurang jelas ya sampai kapan, kami takutnya diputus nanti. Selain itu juga uangnya enggak cukup kalau untuk sewa rumah beberapa bulan," kata Ali saat berbincang di sekitar kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Selasa (17/9).

"Kami cari kos kemarin yang paling murah itu sekitar Rp500-700ribu. Sisanya enggak cukup buat beli makanan, apalagi kalau kita sakit. Pasti enggak akan cukup," tambahnya.
Tidak ada kegiatan yang dilakukan oleh Ali dan teman-temannya selain menunggu bantuan untuk makan dan tempat tinggal. Saat berbincang dengan CNNIndonesia.com pun, ia menceritakan tak dapat memprediksi apa yang akan terjadi ke depannya.
Pencari Suaka, Terusir Lalu 'Menggelandang' di Kebon SirihPencari Suaka di trotoar Kebon Sirih, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/ Michael Josua Stefanus).
Ali yang datang dari Kalideres hingga Kebon Sirih menggunakan TransJakarta ini bercerita, hingga kini ia dan para pencari suaka lainnya hidup bergantung dari bantuan donatur atau warga sekitar. Bahkan, menurut pria 25 tahun ini, terkadang para pencari suaka hanya makan satu bungkus mie instan dalam sehari.

"Kami kan tidak boleh bekerja, jadi mau tidak mau hanya menunggu," ujarnya.

Kehidupannya di atas trotoar memang tak menentu. Selain kerap didata, para pencari suaka juga sering mendapat teguran dari Satpol PP karena keberadaan mereka menghalangi pejalan kaki di pedestrian, khususnya lajur untuk difabel berwarna kuning.
Ali dan teman-temannya mengaku terpaksa tinggal di trotoar walaupun sebenarnya tahu bahwa trotoar itu khusus pejalan kaki. Tapi keadaan memaksanya demikian.

Pencari suaka lainnya, Mirza Hussain Sherzed (24) mengatakan mereka belum mendapat kepastian dari UNHCR. Ia bahkan mendesak Komisioner Tinggi PBB terkait pengungsi itu melakukan sesuatu yang lebih berdampak bagi mereka.

"Mereka meminta kami untuk menunggu, tapi sampai kapan? Saya masih umur 24 tahun, harus melanjutkan hidup saya untuk pendidikan, dan lainnya," kata Sherzed.

Ia tidak bisa berharap banyak karena memahami situasinya berada di negara lain. Menurutnya, yang dibutuhkan oleh para pencari suaka saat ini adalah bantuan untuk sekadar makan dan tempat tinggal.

[Gambas:Video CNN] (mjo/osc)