Polisi Tangkap Penyusup Demo Mengaku Dibayar Rp40 Ribu

CNN Indonesia | Selasa, 01/10/2019 15:58 WIB
Polisi Tangkap Penyusup Demo Mengaku Dibayar Rp40 Ribu Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polda Metro Jaya menangkap 649 orang terkait kerusuhan di sekitar Gedung DPR pada Senin (30/9) malam. Beberapa di antaranya diduga penyusup yang dibayar untuk menyamar menjadi pelajar.

"Khususnya di [Polres] Jakarta Utara kemarin sudah merilis ada 36 orang yang diamankan terkait penyusupan dengan menggunakan seragam sekolah," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (1/10).

"Anak-anak tersebut isinya tato semua dan mereka dibayar bervariasi antara Rp20 ribu sampai Rp40 ribu," katanya menambahkan.


Dedi tidak menjelaskan oknum yang membayar penyusup tersebut, atau kemungkinan afiliasi para penyusup dengan kelompok-kelompok tertentu.
Para oknum perusuh disebut juga menyiapkan bom molotov. Tujuannya untuk menciptakan provokasi dan kerusuhan dalam aksi kemarin malam.

"Sudah dipersiapkan oleh mereka bom molotov dalam rangka menciptakan demo yang damai itu menjadi demo yang rusuh," ungkapnya.

Mereka ditangkap di lokasi berbeda. Sebanyak 258 orang ditahan unit krimum, 40 orang di unit krimsus, dan 82 orang di unit narkoba. Sedangkan untuk pengamanan di jajaran Polres, sebanyak 36 orang ditangkap Polres Jakarta Utara, 63 orang di Polres Jakarta Pusat, dan 170 orang di Polres Jakarta Barat.

Dari 649 orang yang ditangkap juga belum ada catatan rinci mengenai jumlah pelajar, mahasiswa maupun perusuh. Identitas mereka belum dirilis.
Dedi berkata status mereka saat ini masih menjalani proses penyelidikan, belum ditetapkan sebagai tersangka.

"Kita sudah sampaikan berulang kali kalau demo lebih dari jam 18.00 WIB ke atas sudah dapat dipastikan menjelma menjadi perusuh," ujarnya.

Dia menyatakan tindakan tegas dibutuhkan untuk menghadapi para perusuh. Tindakan tegas tersebut, menurut Dedi, untuk melokalisasi kerusuhan agar tidak meluas.

Dalam mengambil tindakan pengamanan, Dedi mengklaim aparat kepolisian sudah berusaha maksimal agar tidak menyerang masyarakat. Ia menambahkan aparat tidak boleh menghadapi pendemo dengan senjata tajam.

Menurut Dedi aparat hanya dibekali tongkat dan tameng saat mengawal demonstrasi ataupun perusuh. Instrumen lain adalah water canon dan gas air mata.

"Itu aja untuk menghadapi perusuh," tuturnya.

Dedi mengatakan polisi masih terus mendalami pelaku-pelaku kerusuhan yang sudah ditangkap.

[Gambas:Video CNN]

Pendalaman menyasar tak hanya aktor di lapangan, melainkan juga aktor di belakang layar. Dedi menegaskan polisi akan mencari tahu peran mereka, baik sebagai koordinator maupun pemberi dana.

"Ini kan bukan hanya aktor lapangan saja yang nanti didalami. Tapi second line di atasnya juga akan didalami perannya. Sebagai koordinator, kemudian sebagai pendana, menyiapkan bahan yang digunakan untuk kerusuhan. Itu akan didalami," jelas Dedi. (fey/wis)