Cerita Pemilik Warteg Palmerah soal Pedemo Mau Borong Sambal

CNN Indonesia | Selasa, 01/10/2019 17:24 WIB
Seorang anak di bawah umur mendatangi warteg di Palmerah untuk memborong persediaan sambal. Pemilik warteg curiga karena saat itu, bentrok hampir pecah. Warung dan tempat usaha lain di sekitar Pasar Palmerah jadi korban bentrok massa dan aparat yang terjadi kemarin, Senin 30 September 2019. (CNN Indonesia/Michael Josua Stefanus)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jejeran warung dan tempat usaha di dekat Pasar Palmerah ikut terdampak bentrok massa dan aparat keamanan yang terjadi tak jauh dari kawasan itu, 30 September kemarin.

Ada warung jadi korban coretan nakal massa demonstran dan ada yang barang dagangannya diambil untuk dijadikan senjata melawan aparat.

Sartono yang membuka warung tegal tepat di seberang perlintasan sebidang dekat Stasiun Palmerah bercerita ada anak di bawah umur yang mencoba membeli sambal miliknya.


Saat itu lokasi dekat rel sudah ramai dengan massa. Situasinya di ambang bentrok.

Dalam keadaan tegang tersebut Sartono mengaku curiga anak-anak itu akan menggunakan sambal miliknya untuk dijadikan senjata melawan aparat.

Kecurigaannya bertambah karena sang anak menyebut bakal membayar berapapun semua persediaan sambal miliknya.

"Mereka bilangnya sih semua yang ada di dalam kalau bisa. Begitu saya larang, mereka maksa bilangnya 'dibeli kok'," kata Sartono kepada CNNIndonesia.com, Selasa (1/10).

"Tetap saya enggak kasih," lanjut Sartono. "Soalnya, kan, keadaan lagi rusuh. Enggak mungkin dipakai buat makan."

Kawasan Palmerah kemarin memang jadi titik bentrok massa dan aparat. Dalam bentrok itu, massa terdiri mahasiswa, pelajar, hingga warga biasa. Massa umumnya membalas tembakan gas air mata aparat dengan batu dan benda tumpul lain.

Sartono curiga sambal itu digunakan sebagai senjata. Caranya dengan melempar sambal ke arah aparat. Namun dia mengaku belum pernah melihat massa menggunakan sambal untuk menyerang aparat.

"Saya cuma menduga saja. Soalnya tidak mungkin dipakai untuk makan dalam keadaan seperti itu," ujar Sartono.

Dekat warung tegal Sartono ada sebuah salon. Yanti yang membuka usaha itu menceritakan tempat usahanya jadi korban vandalisme. Sebuah coretan merah bertuliskan 'DPR Homo' terpampang di tembok salon.

Dia juga bercerita ulah massa terhadap toko sembako yang berdiri tepat di seberang usahanya.

Saat bentrok kemarin, kata Yanti, toko itu memilih tutup. Mungkin untuk menghindari risiko kerusakan akibat demo. Yang terjadi justru toko sembako itu jadi bulan-bulanan massa yang mencoba mengambil botol air mineral.

"Itu toko seberang yang tutup kan botol air minumnya pada diambilin sama massa kemarin," kata Yanti.

Usaha Terganggu

Sebagian toko dekat Pasar Palmerah memang tak mau ambil risiko. Sebab bentrok massa dan aparat terjadi tak jauh dari tempat usaha mereka. Mereka memilih tutup lebih awal untuk menghindari dampak kericuhan.

Istri Sartono pemilik warteg, mengatakan terpaksa menutup usahanya pukul 16.00 WIB. Padahal dalam situasi normal, wartegnya buka 24 jam.

"Jam empat sore udah tutup kami kemarin, enggak kuat gas air matanya," kata ibu pemilik warteg yang tak mau menyebut namanya.

Lain cerita, Yanti menutup tempat pangkas rambutnya sejak pukul 14.00 WIB. Ia tidak ingin tertahan di kawasan Pasar Palmerah saat kerusuhan terjadi.

[Gambas:Video CNN]

Firman yang membuka usaha warung nasi padang terpaksa menutup usahanya seharian. Ia berkaca pada rusuh 25 September lalu yang melibatkan pelajar dan aparat.

"Saya tutup saja, sama seperti kemarin (25 September) itu kan banyak pelajar," kata Firman.

Pantauan CNNIndonesia.com hari ini masih banyak toko yang tutup. Hanya sedikit yang berani membuka toko. Coretan hinaan dari massa parlemen masih terpampang di sejumlah tembok toko-toko tersebut. (mjo/wis)